Ajang ITTIE 2025 yang mempertemukan pelaku pariwisata, perdagangan, dan investasi menjadi wadah strategis bagi BPDP untuk menunjukkan bahwa hilirisasi sawit dapat berjalan berdampingan dengan pertumbuhan sektor lain.
Dalam pameran ini, BPDP menampilkan berbagai produk turunan sawit, dari kosmetik ramah lingkungan, lilin batik, hingga pangan sehat. Semua dikemas dalam narasi yang mudah dipahami, terutama oleh generasi muda yang cenderung skeptis terhadap industri perkebunan konvensional.
“Kita ingin menunjukkan bahwa UMKM sawit punya potensi besar untuk naik kelas. Kalau dikelola dengan pendekatan yang ramah lingkungan dan didukung teknologi, produk UMKM berbasis sawit bisa masuk ke pasar ekspor maupun pariwisata,” ujar salah satu staf BPDP yang bertugas di stan.
BACA JUGA: BPDP Luncurkan Katalog 100 Produk UKMK Sawit, Dorong Inovasi Serta Buka Peluang Ekonomi Daerah
Dalam empat hari pelaksanaan pameran dari 26–29 Juni, ratusan pengunjung dari berbagai kalangan mampir ke stan BPDP. Ada yang penasaran, ada yang skeptis, tetapi banyak pula yang pulang dengan pemahaman baru bahwa sawit adalah bagian dari keseharian — dari sabun mandi hingga batik yang mereka kenakan.
“Melalui edukasi interaktif seperti ini, kami berharap masyarakat bisa melihat industri sawit secara lebih utuh. Bahwa di balik kompleksitasnya, ada upaya-upaya untuk memperbaiki dan mentransformasi,” kata Adi.
Langkah BPDP ini menjadi semacam jawaban atas tantangan masa depan, bagaimana menyatukan keberlanjutan, daya saing, dan penerimaan publik dalam satu gerakan bersama. Dan itulah yang mereka coba lakukan — bukan sekadar mempromosikan, tetapi membuka ruang dialog untuk masa depan industri sawit Indonesia yang lebih adil dan lestari. (T2)
