Bagi pelaku industri, keterampilan ini menjadi nilai tambah signifikan. “Program praktik ini membuat mahasiswa INSTIPER sudah berbasis SOP industri. Kami bisa hemat waktu 6 bulan untuk pelatihan kerja,” ujar Michael Adryanto, Deputi Managing Director Karyamas Plantation. Ia menambahkan, kehadiran pihak industri dalam praktik lapangan juga memungkinkan penyelarasan langsung antara kurikulum akademik dan kebutuhan lapangan.
INSTIPER pun tak hanya mengandalkan pengajaran dari dosen internal. Mereka membentuk berbagai academy ko-kurikuler, seperti INSTIPER Drone Academy dan INSTIPER Multimedia Academy, untuk memperluas spektrum keterampilan mahasiswa. Pendekatan ini memberikan ruang bagi mahasiswa untuk mengasah kompetensi tambahan di bidang teknologi informasi, pemetaan, dan komunikasi visual.
Kegiatan praktik lapangan yang digelar dari Mei hingga Juli 2025 ini menjadi bagian dari upaya strategis INSTIPER menjembatani dunia pendidikan dan industri. “Kami membuka pintu selebar-lebarnya untuk kolaborasi lebih dalam dengan perusahaan sawit,” ujar Harsawardana, sembari menegaskan bahwa INSTIPER siap berperan aktif dalam regenerasi SDM sektor sawit nasional.
BACA JUGA: Mengenal Industri Sawit Lewat Lapangan, Institut Ini Latih Mahasiswa Jadi SDM Siap Industri
Dengan pendekatan berbasis teknologi, kolaborasi industri, dan orientasi pada pembelajaran langsung di lapangan, INSTIPER menunjukkan bagaimana perguruan tinggi dapat memainkan peran krusial dalam membentuk masa depan sektor strategis Indonesia—sektor kelapa sawit. Sebuah model pendidikan tinggi yang tak hanya mencetak sarjana, tetapi juga engineer, analis, dan pemimpin masa depan di industri perkebunan. (T2)
