InfoSAWIT, UNGARAN – Di tengah meningkatnya tuntutan industri akan sumber daya manusia (SDM) yang siap pakai, Institut Pertanian Stiper (INSTIPER) Yogyakarta mengambil langkah progresif. Melalui program praktik lapangan intensif, sebanyak 120 mahasiswa penerima beasiswa SDM Perkebunan Kelapa Sawit (SDM PKS) angkatan kedua digembleng langsung di lapangan—mulai dari kebun sawit hingga dapur pengolahan produk hilir—guna membentuk lulusan yang tak hanya paham teori, tetapi juga piawai dalam praktik.
Program ini tidak sekadar mengirim mahasiswa ke lapangan. Dengan kurikulum yang dirancang holistik, para mahasiswa dari empat program studi – Agroteknologi, Agribisnis, Teknologi Hasil Pertanian, dan Teknik Pertanian – ditugaskan untuk bekerja lintas disiplin. Dari persiapan lahan, pemupukan presisi menggunakan drone, panen mekanis dengan crane grabber, hingga pengolahan tandan buah segar (TBS) menjadi crude palm oil (CPO) di pilot plant kampus, semuanya dijalani dalam satu rangkaian pembelajaran kinestetik yang menyeluruh.
“Ini bukan sekadar praktik, ini adalah simulasi dunia kerja yang sesungguhnya,” kata Dr. Ir. Harsawardana, M.Eng., Rektor INSTIPER Yogyakarta, saat menerima kunjungan dari Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) di kebun KP2 SEAT Ungaran pada 18 Juni 2025, dalam keterangan resmi diterima InfoSAWIT, Kamis (3/6/2025).
Ia menekankan pentingnya keterlibatan mitra industri dalam proses pembelajaran sebagai bagian dari komitmen INSTIPER mencetak SDM unggul di sektor sawit.
BPDP, yang menjadi penyandang dana program beasiswa SDM PKS, turun langsung meninjau pelaksanaan praktik lapangan ini. Dalam kunjungan tersebut, hadir Bapak Sukarji (Komite Pengembangan SDM BPDP), Rangga Rahmananda (Plt. Kepala Divisi SDM PKS), dan Diete Patik (Staf Divisi Program Pelayanan). Hadir pula para perwakilan perusahaan sawit terkemuka, seperti Karyamas Plantation, Astra Agro Lestari, Sinarmas Tbk., Gunas Group, dan Bio Inti Agrindo.
“SDM yang dibutuhkan di industri sawit bukan hanya tahu teori, tapi harus bisa bekerja di kebun, mengoperasikan alat, membaca data drone, bahkan menyusun laporan manajerial. INSTIPER sudah mengarah ke sana,” ujar Sukarji dalam sambutannya.
Lebih dari itu, mahasiswa juga diajak memanfaatkan teknologi terkini. Dalam sesi pemupukan, mahasiswa menggunakan spreader dan drone DJI Agras T25 yang memuat hingga 20 liter larutan pupuk, menggantikan pola pemupukan manual yang selama ini rentan kehilangan efisiensi. Untuk pemetaan kebun dan pemantauan kesehatan tanaman, mereka mengoperasikan DJI Matrice 4 RTK dan DJI Mavic 3 Multispektral yang mampu membaca kondisi vegetatif melalui indeks NDVI secara real time.
BACA JUGA: Menelisik Peran PT. Agrinas dalam Perkebunan Sawit Berkelanjutan Indonesia
Setelah pengamatan dari udara, mahasiswa kemudian melakukan validasi lapangan dengan Avenza Map, mengecek titik tanaman yang teridentifikasi tidak sehat dan menganalisis penyebabnya, apakah karena hama, penyakit, atau kekurangan unsur hara. Pendekatan integratif ini menanamkan budaya kerja berbasis data dan teknologi, sesuai dengan standar operasional perusahaan sawit masa kini.
Di sisi hilir, mahasiswa tak luput dari pelatihan di pilot plant kampus, mengolah TBS menjadi CPO lewat tahapan sterilizer, thresher, digester, screw press, hingga clarifier. Mereka juga dikenalkan dengan pembuatan produk turunan seperti RBDPO, biodiesel, sabun, lilin, bahkan makanan olahan berbasis sawit seperti cookies dan margarin.
