Uji laboratorium lebih lanjut juga menunjukkan bahwa sistem ini mampu menurunkan biochemical oxygen demand (BOD), chemical oxygen demand (COD), dan kadar padatan terlarut dalam air limbah, sekaligus menyeimbangkan pH air yang awalnya asam menjadi netral.
Air hasil akhir bisa digunakan kembali sebagai air teknis dalam pabrik atau diolah menjadi pupuk cair organik. Lebih menarik lagi, biaya operasional sistem ini sangat rendah—sekitar Rp54,8 per liter, jauh di bawah nilai ekonominya yang bisa mencapai Rp709 per liter dari hasil penjualan biofertilizer dan sulfur hasil oksidasi.
Bambang menekankan bahwa teknologi ini dirancang agar bisa diadopsi oleh pabrik kelapa sawit skala kecil sekalipun. “Kami ingin membuktikan bahwa keberlanjutan itu bisa murah, sederhana, dan tetap menguntungkan,” katanya.
BACA JUGA: Ekspor Turun, Produksi Melemah, Industri Sawit Malaysia Alami Penurunan di Juni 2025
Dengan penerapan lebih luas, sistem ini dapat menjadi jawaban atas tantangan besar industri sawit: bagaimana mengelola limbah tanpa mencemari lingkungan, sembari menghasilkan nilai tambah dari prosesnya. Ia menyentuh tiga pilar utama keberlanjutan—ekonomi, sosial, dan ekologi—dalam satu rangkaian terpadu.
Lebih dari sekadar pencapaian ilmiah, kisah riset ini menjadi simbol bahwa perubahan bisa dimulai dari hal kecil. Dari setetes air limbah dan segenggam mikroba, tercipta sistem yang mampu menjernihkan udara, menyuburkan tanah, dan membersihkan air.
Di masa depan, ketika industri sawit Indonesia bergerak ke arah yang lebih hijau dan bersih, mungkin kita akan menengok kembali ke laboratorium sederhana ini—sebuah tempat di mana keberanian untuk berpikir berbeda telah mengubah limbah menjadi berkah. (T2)
