InfoSAWIT, JAKARTA – Di balik cerobong asap dan kolam limbah kelapa sawit, sekelompok ilmuwan Indonesia melahirkan inovasi yang bisa mengubah wajah industri sawit nasional. Lewat pendekatan berbasis mikroorganisme dan tumbuhan air, mereka berhasil mengembangkan sistem penyerap gas beracun hidrogen sulfida (H₂S) dari limbah cair kelapa sawit atau Palm Oil Mill Effluent (POME), sekaligus memurnikan air limbah menjadi layak pakai dan menghasilkan pupuk organik.
Riset ini diterbitkan dalam jurnal Case Studies in Chemical and Environmental Engineering tahun 2025, hasil kolaborasi para peneliti dari berbagai institusi, antara lain Bambang Trisakti, Rivaldi Sidabutara, Irvana, Gloria Clarita Sinamo, dan lainnya. Solusi yang mereka tawarkan tidak bersandar pada teknologi mahal atau bahan kimia agresif, melainkan pada dua agen biologis alami: bakteri tanah Thiobacillus sp. dan tumbuhan air Azolla microphylla.
“Seringkali solusi terhadap limbah justru ada di sekitar kita. Kami mencoba mendengar alam,” kata peneliti utama, Bambang Trisakti, dilansir InfoSAWIT dari laman resmi Universitas Sumatera Utara (USU), Senin (14/7/2025).
Selama ini, POME dikenal sebagai limbah hasil samping dari industri sawit yang menimbulkan bau menyengat dan pencemaran jika tidak ditangani dengan baik. Namun, limbah ini juga mengandung biogas yang dapat dimanfaatkan sebagai sumber energi. Sayangnya, biogas tersebut kerap terkontaminasi oleh H₂S—gas beracun dan korosif yang merusak peralatan serta membahayakan kesehatan.
Industri biasanya mengandalkan bahan kimia untuk menghilangkan H₂S, tetapi metode itu mahal dan menghasilkan limbah sekunder. Di sinilah pendekatan biologis menjadi alternatif yang lebih ramah lingkungan dan ekonomis.
Sistem yang dikembangkan tim peneliti memanfaatkan kolom berisi air dan struktur Raschig ring untuk menyerap H₂S dari biogas. Air tersebut kemudian diregenerasi melalui dua tahap: pertama, dialirkan ke kolam yang mengandung bakteri Thiobacillus sp. untuk mengoksidasi H₂S menjadi senyawa sulfat; kedua, diarahkan ke kolam berisi Azolla microphylla, tumbuhan air mungil yang mampu menyerap sisa senyawa polutan dan memperbaiki kualitas air.
BACA JUGA: 88 Petani Aceh Dilatih Jadi Pekebun Modern, Kebun Sawit Lebih Berkualitas dan Ramah Lingkungan
Hasilnya sangat menjanjikan: konsentrasi H₂S dalam air turun drastis dari 3000 ppm menjadi 900 ppm dalam waktu sembilan jam oleh Thiobacillus sp., dan kemudian diturunkan lagi oleh Azolla dari 10.000 ppm menjadi hanya 1700 ppm dalam empat hari. Efisiensi sistem mencapai 83%.
Multi-Manfaat dalam Satu Sistem
Tidak hanya membersihkan udara dan air, sistem ini juga menghasilkan biofertilizer dari pertumbuhan Azolla, yang kaya akan nitrogen dan bisa dimanfaatkan sebagai pupuk organik. “Dalam satu kolam, kita dapatkan manfaat dari tiga fungsi: penyerap polutan, penghasil oksigen, dan penyedia pupuk,” jelas Bambang.
