InfoSAWIT, YOGYAKARTA – Direktur Utama PTPN IV PalmCo, Jatmiko Santosa, menyinggung sejumlah tantangan serius yang dihadapi industri kelapa sawit nasional. Dalam paparannya pada sebuah forum industri, pada pertengahan Juli 2025 lalu, Jatmiko menekankan pentingnya kolaborasi multipihak dan transformasi digital sebagai kunci untuk menjaga daya saing dan keberlanjutan sektor sawit Indonesia.
Menurut Jatmiko, meskipun sawit merupakan salah satu komoditas andalan Indonesia dan kontributor utama bagi perekonomian nasional, produktivitasnya dalam satu dekade terakhir nyaris stagnan.
“Jika kita lihat tren dalam 10 tahun terakhir, pertumbuhan tahunan produksi sawit kita (CAGR) hanya sekitar 1%. Tidak ada lonjakan signifikan. Sementara itu, pesaing seperti rapeseed justru mengalami lonjakan tajam dengan CAGR mencapai 6%,” ungkap Jatmiko dikutip InfoSAWIT, dari laman Instagram resmi PTPN IV PalmCo, Minggu (27/7/2025).
BACA JUGA: Politeknik CWE Dorong SDM Sawit Unggul Lewat Edukasi
Ia juga menambahkan bahwa saat ini harga sawit Indonesia bahkan berada diatas harga rapeseed, yang dulu rapeseed harganya sempat lebih mahal. Kondisi ini menunjukkan bahwa industri sawit perlu melakukan evaluasi menyeluruh untuk tetap kompetitif di pasar global.
Menanggapi situasi tersebut, Jatmiko menegaskan bahwa kolaborasi adalah kunci. Sebagai perusahaan milik negara, PTPN IV PalmCo merasa memiliki tanggung jawab untuk bekerja sama dengan seluruh pemangku kepentingan.
“Kami tidak bisa berjalan sendiri. Sebagai entitas BUMN yang hakikatnya milik rakyat, kami harus berkolaborasi dengan semua pihak—mulai dari koperasi unit desa (KUD), petani swadaya, hingga mitra digital,” ujarnya.
BACA JUGA: KLH/BPLH Segel Empat Perusahaan Sawit di Riau, Tindak Tegas Pelanggaran Karhutla
Dengan lahan kelola hampir 600 ribu hektare, Jatmiko menilai mustahil melakukan transformasi dan peningkatan produktivitas tanpa pemanfaatan teknologi digital. Untuk itu, pihaknya terus mendorong digitalisasi dalam rantai pasok dan operasional perkebunan.
Tak hanya fokus pada produktivitas, PalmCo juga menaruh perhatian besar pada aspek keberlanjutan. Jatmiko mengungkapkan bahwa komitmen perusahaan terhadap prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG) membuahkan pengakuan global.
“Hari ini, kami tercatat sebagai perusahaan perkebunan nomor dua paling minim risiko di dunia, menurut lembaga internasional. Itu berkat komitmen kami terhadap ESG,” pungkasnya.
Dengan memperkuat sinergi lintas sektor dan mengedepankan inovasi teknologi, PalmCo optimistis industri sawit nasional mampu bertahan dan berkembang di tengah persaingan global yang kian dinamis. (T2)
