InfoSAWIT, BELITUNG TIMUR — Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) terus memperluas peranannya dalam memperkuat ketahanan ekonomi daerah berbasis pertanian. Melalui Pusat Riset Tanaman Perkebunan, BRIN menggandeng Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Belitung Timur dalam menyelenggarakan Pelatihan Teknik Budidaya Sawit untuk Menjadi Petani Terampil Perkebunan Kelapa Sawit.
Kegiatan ini diikuti antusias oleh kelompok tani sawit dari berbagai wilayah di Belitung Timur. Suasana pelatihan tampak hidup dengan diskusi yang interaktif. Para peserta aktif menyampaikan pertanyaan seputar praktik budidaya sawit, mulai dari teknik pemangkasan, pemilihan bibit unggul sesuai kondisi lahan, hingga strategi pemupukan yang efisien untuk meningkatkan hasil panen.
Wihatmoko Waskitoaji, perwakilan dari BRIN, menegaskan bahwa kegiatan ini merupakan bentuk konkret diseminasi hasil riset kepada masyarakat. “Kami ingin petani kelapa sawit di Belitung Timur tidak hanya sekadar berkebun, tetapi mampu menerapkan teknologi yang tepat guna berbasis inovasi,” ujarnya dilansir InfoSAWIT dari BRIN, Jumat (8/8/2025).
BACA JUGA: SIMP Group Bukukan Kinerja Positif Semester I 2025, Laba Naik 43 Persen
Ia menambahkan bahwa penguatan kapasitas petani berbasis riset juga merupakan strategi adaptasi terhadap tantangan perubahan iklim dan dinamika pertanian lokal. “Transfer ilmu ini penting untuk mendorong kemandirian dan efisiensi dalam sistem pertanian berkelanjutan,” tambahnya.
Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Belitung Timur, Heryanto, turut menyambut baik kegiatan ini. Ia menilai pelatihan semacam ini menjadi langkah penting dalam meningkatkan kapasitas petani sawit rakyat. “Kami mengapresiasi dukungan BRIN yang terus hadir mendampingi petani. Harapannya, kerja sama ini dapat berlanjut dan menjangkau lebih banyak wilayah,” katanya.
Dalam pelatihan tersebut, Peneliti Ahli Muda BRIN, Junita Br Nambela, menyampaikan materi teknis yang aplikatif, mulai dari persiapan lahan, pemilihan benih sehat, teknik tanam efisien, hingga pengendalian hama dan penyakit. Tak hanya itu, Junita juga menekankan pentingnya proses panen yang tepat untuk menjaga mutu Tandan Buah Segar (TBS).
BACA JUGA: Lonsum Catat Laba Bersih Rp714 Miliar di Semester I 2025, Naik 19%
Junita mengungkapkan bahwa masih banyak petani yang keliru dalam praktik budidaya, terutama dalam perlakuan terhadap pelepah tua. “Banyak yang mengira pelepah tua harus dibiarkan agar batang besar. Padahal, secara ilmiah, pemangkasan pelepah justru penting untuk mendukung produksi dan mempermudah panen,” jelasnya.
Ia juga menyoroti pentingnya seleksi benih sebelum tanam. “Sering kali petani tidak melakukan seleksi bibit, padahal ini sangat menentukan pertumbuhan dan hasil. Bibit yang sehat dan normal adalah kunci kebun yang produktif,” ujarnya. (T2)
