InfoSAWIT, ACEH SINGKIL — Program Sustainable Living Village (SLV) yang dijalankan oleh Apical bersama mitra-mitranya telah mencapai tonggak penting pada tahun keduanya di Kabupaten Aceh Singkil, Aceh. Bertempat di Kantor Bappeda Aceh Singkil, inisiatif ini menunjukkan kemajuan signifikan melalui penanaman pohon, peningkatan kapasitas petani sawit, dan penguatan kelembagaan petani.
Program SLV adalah model pembangunan desa berkelanjutan yang menyelaraskan dampak sosial ekonomi dengan perlindungan lingkungan. Melalui program ini, petani tidak hanya menerima pendampingan untuk menerapkan praktik sawit berkelanjutan, tetapi juga didorong untuk melakukan diversifikasi mata pencaharian, seperti budidaya madu trigona, yang menambah pendapatan dan membantu mengurangi tekanan terhadap kawasan hutan.
Program ini merupakan kolaborasi antara Apical Group, Yayasan Inisiatif Dagang Hijau (IDH), Yayasan Ekosistem Lestari (YEL), dan Forum Konservasi Leuser (FKL) bersama Pemerintah Kabupaten Aceh Singkil. Sinergi ini memastikan setiap pencapaian sejalan dengan agenda pembangunan daerah dan target keberlanjutan sektor sawit.
Salah satu pencapaian utama program ini adalah 1.000 petani yang telah menyelesaikan pelatihan Good Agricultural Practices (GAP) dan Best Management Practices (BMP). Melalui GAP, petani diajari praktik budidaya yang efisien dan ramah lingkungan. Sementara itu, BMP menerjemahkan prinsip-prinsip tersebut ke dalam langkah-langkah operasional di kebun, mulai dari pemupukan seimbang hingga pengendalian hama terpadu.
Wakil Bupati Aceh Singkil, H. Hamzah Sulaiman, SH., menyambut baik capaian ini. “Kami mengapresiasi para mitra yang konsisten mendampingi petani, memperkuat kelembagaan, dan membuka akses pasar serta pembiayaan yang lebih baik,” ujarnya dalam keterangan resmi diterima InfoSAWIT, Sabtu (9/8/2025).
Apical menegaskan komitmennya untuk memberikan nilai tambah yang terukur. “Fokus kami adalah membantu petani naik kelas melalui praktik budidaya yang baik, akses legalitas, dan penguatan koperasi,” kata CSR Manager Apical Group, Sugiantoro. “Capaian 1.000 petani terlatih menjadi fondasi penting untuk memperluas dampak SLV di tahun-tahun berikutnya.”
BACA JUGA: Harga TBS Sawit Jambi Periode 8-14 Agustus 2025 Naik Rp. 46,54 per Kg
Penguatan tata kelola juga diwujudkan melalui peresmian dua koperasi petani sawit swadaya. Koperasi ini berfungsi sebagai wadah untuk pengadaan sarana produksi, pemasaran TBS yang transparan, dan persiapan sertifikasi keberlanjutan.
Di sisi legalitas, lebih dari 500 petani telah menerima Surat Tanda Daftar Budidaya elektronik (e-STDB). Dokumen ini menjadi kunci untuk mengakses pembiayaan formal, meningkatkan posisi tawar, dan memenuhi syarat sertifikasi seperti ISPO dan RSPO. “Legalitas lahan yang tertata baik adalah kunci utama bagi ketertelusuran rantai pasok yang inklusif dan akses pembiayaan,” kata Ketua Yayasan Inisiatif Dagang Hijau, Nassat Idris.
Program SLV di Aceh Singkil mencerminkan filosofi Apical, 5C—Good for Community, Country, Climate, Customer, and Company—yang mendorong sinergi antara perusahaan, pemerintah, dan masyarakat untuk membangun desa yang tangguh dan masa depan yang lebih hijau dan berkelanjutan. (T2)
