InfoSAWIT, JAKARTA — PT Perkebunan Nusantara IV PalmCo, subholding PTPN III (Persero), mengundang puluhan petani sawit dari berbagai daerah di Indonesia ke kantor pusatnya di Jakarta, awal pekan ini. Sebanyak 42 petani dari 38 lembaga pekebun hadir bersama pengurus Asosiasi Petani Kelapa Sawit Perusahaan Inti Rakyat (ASPEKPIR) dan diterima langsung oleh Direktur Utama PalmCo, Jatmiko Santosa, serta Direktur Hubungan Kelembagaan, Irwan Perangin-angin.
“Kami bersyukur di bulan kemerdekaan ini dapat bersilaturahmi dengan perwakilan petani sawit dari seluruh Nusantara. Bapak Ibu adalah pejuang masa kini yang berkontribusi besar bagi bangsa lewat kebun sawitnya,” ujar Jatmiko dalam keterangannya, Ahad (17/8/2025).
Para petani yang hadir datang dari Aceh, Sumatera Utara, Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Jawa Barat, hingga Kalimantan dan Sulawesi. Selama dua hari, mereka berdiskusi langsung dengan direksi, melihat sistem digitalisasi PalmCo di Jakarta, serta mengikuti pembekalan teknis dan pengembangan kapasitas di Bandung.
BACA JUGA: Rencana Besar Duo Perusahaan Besar Sawit Global Memangkas Emisi Karbon
Jatmiko menekankan pentingnya kolaborasi menghadapi tantangan industri minyak nabati global. Ia menyebut, pertumbuhan produksi CPO Indonesia dalam lima tahun terakhir hanya 1,04 persen per tahun, lebih rendah dibandingkan kedelai (2,98 persen) maupun rapeseed (6,25 persen).
“Posisi sawit sebagai minyak nabati paling produktif bisa saja terancam. Itu sebabnya kita perlu mengelola sawit dengan lebih berkelanjutan agar manfaatnya tetap terjaga,” tegasnya.
Menurut Jatmiko, kunci peningkatan produktivitas ada pada percepatan Program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR). Pasalnya, kebun rakyat yang luasnya dominan masih didominasi tanaman tua sehingga produktivitas CPO hanya 2–3 ton per hektar per tahun.
BACA JUGA: Diplomasi Senyap di Bawah Rindang Sawit
“Sayangnya realisasi PSR nasional masih rendah, rata-rata di bawah 50 persen per tahun. PalmCo berkomitmen memperluas dan mengakselerasi PSR melalui berbagai skema kemitraan, mulai dari single manajemen, penyediaan bibit unggul, hingga pola offtaker dengan pendampingan perusahaan,” jelas Jatmiko.
Sejumlah petani yang hadir turut berbagi pengalaman setelah bermitra dengan PalmCo. Dista Khoesnul dari KUD Tunas Muda mengaku kehidupannya jauh lebih baik. “Dulu penghasilan pas-pasan, sekarang saya bisa menyekolahkan anak sampai sarjana,” katanya.
Sementara itu, Ketua Koperasi Produsen Makarti Jaya, Hadianto, menilai pola single manajemen yang diterapkan PalmCo layak menjadi model nasional. Ia menyebut produksi kebunnya sudah melampaui rata-rata nasional. “Di tahun pertama menghasilkan 18 ton per hektar per tahun, tahun kedua 21 ton, dan tahun ketiga 23 ton. Janji perusahaan untuk menjamin produksi terbukti nyata,” ungkapnya.
BACA JUGA: Harga TBS Sawit Kaltim Periode I-Agustus 2025 Naik Rp. 29,11 per Kg
Harapan senada datang dari M. Nur, petani swadaya asal Aceh, dan Andi Akmal dari Luwu Utara. Keduanya berharap produktivitas petani swadaya yang bermitra dengan pola offtaker juga bisa terus meningkat. “Bersama PalmCo, kemitraan tanpa batas,” ujar mereka. (T2)
