InfoSAWIT, JAKARTA – Dengan kepemilikan lahan seluas setengah juta hektar perkebunan kelapa sawit memiliki tunggung jawab besar dalam upaya menurunkan emisi karbon.
Bahkan di tengah krisis iklim yang semakin mengkhawatirkan, pertanian dan sistem pangan sering kali dianggap sebagai “pendosa” yang sekaligus adalah korban. Chief Sustainability and Communications Officer Sinar Mas Agribusiness & Food, Anita Neville dengan tegas menyatakan bahwa sektor pertanian bertanggung jawab atas emisi gas rumah kaca global. Namun, di sisi lain, sektor perkebunan juga sangat rentan terhadap dampak perubahan iklim dan hilangnya keanekaragaman hayati.
“Kita memiliki jejak karbon yang besar di planet ini, tapi kita juga sangat rentan terdampak,” ujar Anita saat bicara pada Konferensi Internasional tentang Kelapa Sawit dan Lingkungan di Bali, dihadiri InfoSAWIT, pada pertengahan Februari 2025.
BACA JUGA: Rencana Besar Duo Perusahaan Besar Sawit Global Memangkas Emisi Karbon
Ia menekankan bahwa banyak negara di kawasan Asia Pasifik, termasuk Indonesia, berada dalam daftar 40 negara paling berisiko terhadap perubahan iklim. “Masyarakat perdesaan dan petani adalah yang paling terdampak. Banjir yang semakin sering terjadi di Indonesia, misalnya, telah mengganggu logistik dan produktivitas pertanian,” katanya.
Anita juga mengungkapkan bahwa suhu tinggi yang terus-menerus memengaruhi proses penyerbukan dan perilaku budidaya di perkebunan kelapa sawit. Bahkan, dampaknya terhadap produktivitas tenaga kerja manusia belum sepenuhnya terukur. “Ini mendorong kita untuk berpikir lebih jauh tentang otomatisasi dan mekanisasi di industri ini,” tambahnya.
Sebagai Chief Sustainability Officer, Anita sering ditanya bagaimana strategi keberlanjutan perusahaan selaras dengan strategi bisnis. Jawabannya sederhana namun tegas: “Ini adalah strategi bisnis kami. Perubahan iklim dan hilangnya keanekaragaman hayati adalah ancaman eksistensial bagi setiap bisnis di dunia, termasuk kami di Indonesia.”
BACA JUGA: Bibit Sawit Topaz, Menanam Hasil Selangit dari Setiap Butir Benih Sawit
Untuk mengatasi tantangan ini, Sinar Mas Agribusiness & Food telah melakukan langkah-langkah konkret. Selama dua tahun terakhir, perusahaan ini secara intensif mengukur jejak emisi mereka, meningkatkan kualitas dan granularitas data, serta menyelaraskan pendekatan mereka dengan praktik terbaik yang diakui secara internasional.
“Pada tahun 2022, kami menetapkan tahun dasar untuk mengukur emisi kami. Sekarang, kami memiliki pemetaan emisi untuk tiga golongan yang di kumpulkan menjadi Scope 1, 2, dan 3, termasuk target yang selaras dengan inisiatif Science Based Targets,” jelas Anita.
Tercatat sekitar 77% jejak karbon Sinar Mas Agribusiness & Food berasal dari Scope 3, yaitu rantai pasok mereka. Ini mencerminkan kompleksitas tantangan yang dihadapi. Namun, Anita melihat ini sebagai peluang besar. “Jika 78% jejak karbon kami berasal dari rantai pasok, maka solusi kami juga bisa menjadi solusi bagi pelanggan kami,” ujarnya. (T2)
Lebih lengkap baca Majalah InfoSAWIT Edisi Juni 2025
