InfoSAWIT, JAKARTA – Persoalan lain yang sering mencuat adalah klaim lahan dan jual-beli kapling plasma. Program plasma sejatinya dirancang untuk memberi manfaat ekonomi jangka panjang kepada warga desa. Tapi tak jarang, kapling itu dijual kepada pihak luar. “Begitu dijual, mereka kehilangan sumber penghasilan. Akhirnya jadi buruh, lalu mengeluh, dan kadang berujung pada konflik,” jelas Direktur Corporate Affair PT Bumitama Gunajaya Agro, Johan Sukardi kepada InfoSAWIT, belum lama ini.
Sayangnya, belum ada payung hukum yang secara tegas melarang transaksi tersebut. Perusahaan hanya bisa mendorong koperasi untuk membuat mekanisme internal agar plasma tetap dimiliki warga asli.
Sementara itu, klaim lahan, baik oleh warga maupun pihak luar, kerap meletus tanpa aba-aba. Johan menjelaskan bahwa semua klaim harus diverifikasi secara terbuka. Siapa pengklaimnya? Apa dokumennya? Apa sejarah lahannya?
BACA JUGA: Panel WTO Menangkan Indonesia dalam Sengketa Biodiesel dengan Uni Eropa
“Kalau nggak ada dasar, kami anggap spekulan. Tapi kalau ada data kuat, kami duduk bersama perangkat desa, tokoh adat, bahkan tetua kampung, untuk menyelesaikan,” tuturnya. Pendekatan ini mungkin memakan waktu berminggu-minggu, bahkan berbulan-bulan, tapi dianggap jauh lebih efektif ketimbang adu kuasa.
Silaturahmi Sebagai Strategi
Seperti yang telah dilakukan BGA, dengan membentuk Forum Silaturahmi Masyarakat (FORSIMAS) sebagai ruang diskusi formal antara perusahaan dan masyarakat. Di sini, suara warga didengar secara setara. Keluhan, aspirasi, hingga kesalahpahaman dijembatani dalam forum rutin yang terbuka.
Tapi komunikasi sejati, kata Johan, justru terjadi saat di luar ruang rapat. “Saya sering datang ke rumah kepala dusun, ngobrol sambil ngopi. Dari situ kita tahu apa yang sebenarnya terjadi,” katanya.
Menurut Johan, planter masa kini tak cukup hanya mengerti panen atau pupuk. Mereka juga harus punya keterampilan sosial, empati, dan seni komunikasi. “Kalau anak muda yang baru lulus hanya berpikir soal target tonase, dia akan cepat frustrasi. Karena kenyataannya, 70 persen kerja kita itu mengelola manusia, bukan buah sawit.” (T2)
