Konflik Lahan dan Jual Beli Kapling Plasma, Jadi Persoalan Lain di Kebun Sawit

oleh -4.150 Kali Dibaca
Editor: Redaksi InfoSAWIT
InfoSAWIT
Dok. InfoSAWIT/Ilustrasi perkebunan kelapa sawit.

InfoSAWIT, JAKARTA – Persoalan lain yang sering mencuat adalah klaim lahan dan jual-beli kapling plasma. Program plasma sejatinya dirancang untuk memberi manfaat ekonomi jangka panjang kepada warga desa. Tapi tak jarang, kapling itu dijual kepada pihak luar. “Begitu dijual, mereka kehilangan sumber penghasilan. Akhirnya jadi buruh, lalu mengeluh, dan kadang berujung pada konflik,” jelas Direktur Corporate Affair PT Bumitama Gunajaya Agro, Johan Sukardi kepada InfoSAWIT, belum lama ini.

Sayangnya, belum ada payung hukum yang secara tegas melarang transaksi tersebut. Perusahaan hanya bisa mendorong koperasi untuk membuat mekanisme internal agar plasma tetap dimiliki warga asli.

Sementara itu, klaim lahan, baik oleh warga maupun pihak luar, kerap meletus tanpa aba-aba. Johan menjelaskan bahwa semua klaim harus diverifikasi secara terbuka. Siapa pengklaimnya? Apa dokumennya? Apa sejarah lahannya?

BACA JUGA: Panel WTO Menangkan Indonesia dalam Sengketa Biodiesel dengan Uni Eropa

“Kalau nggak ada dasar, kami anggap spekulan. Tapi kalau ada data kuat, kami duduk bersama perangkat desa, tokoh adat, bahkan tetua kampung, untuk menyelesaikan,” tuturnya. Pendekatan ini mungkin memakan waktu berminggu-minggu, bahkan berbulan-bulan, tapi dianggap jauh lebih efektif ketimbang adu kuasa.

 

Silaturahmi Sebagai Strategi

Seperti yang telah dilakukan BGA, dengan membentuk Forum Silaturahmi Masyarakat (FORSIMAS) sebagai ruang diskusi formal antara perusahaan dan masyarakat. Di sini, suara warga didengar secara setara. Keluhan, aspirasi, hingga kesalahpahaman dijembatani dalam forum rutin yang terbuka.

Tapi komunikasi sejati, kata Johan, justru terjadi saat di luar ruang rapat. “Saya sering datang ke rumah kepala dusun, ngobrol sambil ngopi. Dari situ kita tahu apa yang sebenarnya terjadi,” katanya.

BACA JUGA: Pertamina Luncurkan Penerbangan Perdana SAF dari Minyak Jelantah, Tonggak Baru Energi Hijau Indonesia

Menurut Johan, planter masa kini tak cukup hanya mengerti panen atau pupuk. Mereka juga harus punya keterampilan sosial, empati, dan seni komunikasi. “Kalau anak muda yang baru lulus hanya berpikir soal target tonase, dia akan cepat frustrasi. Karena kenyataannya, 70 persen kerja kita itu mengelola manusia, bukan buah sawit.” (T2)

Sumber: Majalah InfoSAWIT edisi Juni 2025


InfoSAWIT

Dapatkan update berita seputar harga TBS, CPO, biodiesel dan industri kelapa sawit setiap hari dengan bergabung di Grup Telegram "InfoSAWIT - News Update", caranya klik link InfoSAWIT-News Update, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel. Bisa juga IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS.


Atau ikuti saluran Whatsapp "InfoSAWIT News", caranya klik link InfoSAWIT News dan Group Whatsapp di InfoSAWIT News Update

Untuk informasi langganan dan Iklan silahkan WhatsApp ke Marketing InfoSAWIT_01 dan Marketing InfoSAWIT_02 atau email ke sawit.magazine@gmail.com