Kumbang yang menggerek eucalyptus diketahui adalah Xylotrupes sp., bukan Oryctes. Hal ini, kata Heri, semakin memperkuat dugaan bahwa kumbang yang tertarik pada S. multijuga dalam riset sebelumnya juga bukanlah kumbang tanduk sawit yang selama ini menjadi hama utama.
Kesalahan identifikasi serangga tentu bisa berimplikasi serius. O. rhinoceros memiliki ciri khas berupa satu tanduk di bagian kepala, baik jantan maupun betina, meski betina berukuran lebih pendek. Sementara Xylotrupes jantan memiliki dua tanduk menyerupai penjepit, dan betinanya bahkan tidak memiliki tanduk.
“Populasi Xylotrupes di perkebunan sawit juga tidak sedominan Oryctes. Jadi, kalau ternyata yang tertarik pada S. multijuga hanyalah Xylotrupes, maka harapan besar itu bisa runtuh,” papar Heri.
BACA JUGA: Agrinas Palma Nusantara Terima Kelola 1,5 Juta Hektare Lahan Sawit dari Satgas PKH
Menanti Riset Lanjutan
Meski demikian, publikasi awal tentang Senna multijuga tetap membuka ruang optimisme. Fakta bahwa tanaman ini mampu memikat kumbang, apa pun spesiesnya, tetap menjadi temuan penting yang bisa dikembangkan. Yang diperlukan kini adalah riset lanjutan yang lebih ketat, dengan verifikasi visual dan genetik untuk memastikan spesies kumbang yang terlibat.
“Kalau memang benar Senna multijuga bisa jadi atraktan sekaligus insektisida alami bagi Oryctes, itu akan menjadi terobosan besar. Tapi kalau tidak, setidaknya kita belajar bahwa jalur riset ini perlu diarahkan lebih tepat sasaran,” pungkas Heri. (T2)
