InfoSAWIT, JAKARTA – Upaya mencari solusi efektif dalam pengendalian kumbang tanduk (Oryctes rhinoceros) kembali menjadi perhatian. Setelah publikasi internasional tahun lalu yang melaporkan potensi tanaman Senna multijuga, atau yang lebih dikenal dengan sebutan “Hujan Emas”, sebagai atraktan sekaligus bioinsektisida bagi kumbang tanduk, muncul harapan besar dari kalangan peneliti maupun pelaku perkebunan.
Publikasi bertajuk First Report: Senna multijuga Subsp. multijuga (Fabales: Fabaceae) as an Attractant and Bioinsecticide for Oryctes rhinoceros yang ditulis oleh Ruli Wandri bersama timnya, memang sempat menggemparkan. Laporan itu menyebut bahwa tanaman tersebut bukan hanya mampu menarik kedatangan kumbang tanduk, tetapi juga bisa membunuhnya setelah serangga itu memakan bagian dari tanaman.
Namun, setahun berselang, kabar lanjutan mengenai efektivitas tanaman ini seakan berhenti di meja laboratorium. “Awalnya, publikasi itu seperti hujan deras di tengah kemarau panjang teknik pengendalian kumbang tanduk. Apalagi, kalau benar bisa jadi atraktan sekaligus racun, itu benar-benar ‘durian runtuh’ bagi pekebun sawit,” ujar Heri Sunarko, pakar Integrated Pest Management (IPM), dikutip InfoSAWIT, dari laman linkedin-nya, Rabu (17/9/2025).
BACA JUGA: Impor Minyak Sawit India Sentuh Level Tertinggi dalam Lebih dari Satu Tahun
Antara Harapan dan Keraguan
Menurut Heri, dalam teori Host Plant-Insect Preference, serangga memang merespons senyawa volatil yang dikeluarkan tanaman. Serangga bisa tertarik dengan aroma khas yang dipancarkan, lalu setelah itu bisa terpapar senyawa toksik yang mematikan. “Itu perpaduan yang komplit-sempurna,” kata Heri.
Jika benar terjadi, penelitian lanjutan seharusnya hanya berfokus pada dua hal: eksplorasi senyawa atraktan spesifik dan identifikasi senyawa racun yang potensial dikembangkan menjadi bioinsektisida. “Bayangkan, tidak perlu lagi repot mengubur pokok, chipping batang, atau resah dengan aplikasi janjang kosong. Cukup tanam Senna multijuga, lalu selesai urusan Oryctes,” tambahnya.
Namun, Heri menegaskan ada catatan penting yang tak boleh diabaikan. Dalam publikasi Wandri dkk., tidak ada penjelasan detail atau gambar representatif yang menunjukkan kumbang yang tertangkap benar-benar O. rhinoceros. “Kemungkinan besar, kumbang yang tertarik bukanlah spesies Oryctes, melainkan Xylotrupes sp.,” ujarnya.
BACA JUGA: Harga TBS Sawit Kaltim Periode I-September 2025 Naik Tipis
Senna vs. Eucalyptus: Dua Tanaman, Dua Cerita
Selain Senna multijuga, Heri juga menyinggung potensi tanaman lain yang memiliki daya tarik terhadap kumbang tanduk, yakni Eucalyptus. Tanaman yang banyak ditemui di kawasan hutan industri itu, menurut pengamatannya, juga bisa memikat kumbang jenis tertentu. Bedanya, eucalyptus tidak bersifat racun. “Walaupun menggerek batang hingga kulitnya terkelupas, kumbang tetap hidup,” jelas Heri sembari menunjukkan dokumentasi pribadi hasil pengamatan lapangan.
