Potensi Pongamia Sebagai Bahan Bakar Biofuel Generasi Kedua dengan Hasil Tinggi

oleh -19.061 Kali Dibaca
Editor: Redaksi InfoSAWIT
InfoSAWIT
Dok. Dadang Gusyana/Pongamia Pinnata yang ada di Indonesia.

Sebagian besar lahan di Australia utara cocok untuk menanam Pongamia, dan saat ini sebagian besar digunakan sebagai padang rumput untuk ternak sapi. Di lahan semacam itu, Pongamia akan memberikan dampak minimal pada produksi daging sapi jika ada penggembalaan di perkebunan dan pakan protein diberikan kepada ternak. Pongamia juga tumbuh dengan baik di lahan pertanian lain, namun tujuan utamanya adalah memproduksi bahan bakar terbarukan di lahan yang tidak digunakan untuk memproduksi makanan.

Meskipun sensitif terhadap embun beku, terutama saat masih muda, pohon ini toleran terhadap panas dan banjir, dan dapat menghasilkan biji saat ditanam di tanah dengan tingkat salinitas yang cukup tinggi. Ini berarti Pongamia kemungkinan akan lebih tahan banting daripada tanaman pertanian umum di Australia utara, seperti kapas dan tebu. Tanaman ini juga membutuhkan irigasi yang lebih sedikit.

Pongamia cocok untuk daerah tropis utara Australia, di sebagian besar wilayah dari Mareeba, Queensland, hingga Broome, Australia Barat (WA). Di Wilayah Utara (NT), misalnya, terdapat lahan yang luas antara Katherine dan Darwin di mana curah hujan tahunan rata-rata lebih dari 800 mm, dan ada potensi untuk melengkapinya dengan irigasi dalam jumlah kecil dari air tanah atau pemanenan air. Potensi juga terdapat di area pesisir Queensland dari Kilcoy hingga Cooktown, di mana curah hujan di atas 900 mm dan risiko embun beku rendah.

BACA JUGA: Senna multijuga dan Eucalyptus: Harapan Baru atau Sekadar Ilusi dalam Pengendalian Kumbang Tanduk?

Pongamia dapat menghasilkan 5 hingga 8 ton benih per hektare tanpa irigasi jika curah hujan tahunan melebihi 900 mm dan tanah dapat menyimpan setidaknya 150 mm kelembaban. Namun, pohon ini memerlukan curah hujan musim dingin atau irigasi jika curah hujan musim dingin kurang. Di beberapa lokasi, mungkin ada tahun-tahun tanpa produksi biji jika kering selama tiga bulan menjelang masa berbunga, yaitu pada bulan Oktober dan November.

Data dari uji coba dan pengamatan menunjukkan hasil optimal Pongamia, dengan curah hujan yang cukup atau irigasi tambahan, adalah sekitar 18 ton benih per hektare dengan kandungan minyak sekitar 40%. Namun, hasil konservatif sebesar 9 ton per hektare, setengah dari hasil optimal, disarankan sebagai target hasil saat merencanakan pengembangan komersial.

 

Studi Kelayakan Bisnis yang Menguntungkan

Penilaian ekonomi yang diuraikan dalam laporan ini menunjukkan potensi keuntungan signifikan dari proyek Pongamia seluas 5.000 hektare, dengan tingkat pengembalian internal (Internal Rate of Return/IRR) sebesar 15%. Angka ini merupakan hasil yang sangat mengesankan untuk sebuah usaha pertanian.

BACA JUGA: Petani Perempuan Sawit Suarakan Kekhawatiran atas Regulasi EUDR di Brussel

Hasil dari studi ekonomi Pongamia sebelumnya tidak sefavorit yang dilaporkan di sini karena berbagai alasan. Tidak hanya harga bahan bakar terbarukan yang meningkat, dalam beberapa tahun terakhir hasil Pongamia juga meningkat dengan beralih dari pohon yang ditanam dari biji ke perbanyakan klonal dari varietas yang berdaya hasil tinggi. Pohon klonal siap panen pada waktu yang hampir sama dengan pohon yang diperbanyak dari biji, dan kini ada banyak pengalaman praktis tentang perbanyakan klonal.

Penelitian selama 10 tahun terakhir telah mengembangkan cara untuk menghilangkan senyawa anti-nutrisi dari tepung biji, sehingga tepung tersebut dapat digunakan sebagai pakan ternak tinggi protein. Potensi pendapatan dari offset karbon dari penanaman Pongamia juga meningkat seiring dengan peningkatan permintaan untuk offset karbon dan harga karbon yang lebih tinggi. Kombinasi faktor-faktor ini berarti harga impas (breakeven price) minyak Pongamia mendekati nol. Temuan ini menunjukkan bahwa Pongamia berpotensi menjadi tanaman penting di Australia utara, yang akan membantu mendongkrak ekonomi Australia dan membantunya menjadi netral karbon pada tahun 2050. (*)

Penulis: Dadang Gusyana, Agronomist Consultant di Agriconsulting Europe S.A. (AESA), Brussel.

Disclaimer: Artikel merupakan pendapat pribadi, dan sepenuhnya menjadi tanggungjawab penulis serta tidak ada kaitannya dengan InfoSAWIT.

Kilk Lebih lanjut untuk informasi Pongamia


InfoSAWIT

Dapatkan update berita seputar harga TBS, CPO, biodiesel dan industri kelapa sawit setiap hari dengan bergabung di Grup Telegram "InfoSAWIT - News Update", caranya klik link InfoSAWIT-News Update, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel. Bisa juga IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS.


Atau ikuti saluran Whatsapp "InfoSAWIT News", caranya klik link InfoSAWIT News dan Group Whatsapp di InfoSAWIT News Update

Untuk informasi langganan dan Iklan silahkan WhatsApp ke Marketing InfoSAWIT_01 dan Marketing InfoSAWIT_02 atau email ke sawit.magazine@gmail.com