InfoSAWIT, PUTUSSIBAU — Upaya mendorong kesejahteraan petani sawit di wilayah terdepan, terluar, dan tertinggal (3T) terus digalakkan. Melalui dukungan Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP), Perhimpunan Forum Petani Kelapa Sawit Jaya Indonesia (POPSI) bersama Media Perkebunan menggelar Pelatihan Teknis Petani Sawit bertema “Pengembangan Sawit untuk Kesejahteraan Masyarakat di Daerah 3T”, di Hotel Grand Banana, Putussibau, Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat, Jumat (31/10).
Kegiatan ini mendapat sambutan hangat dari masyarakat. Lebih dari 150 peserta yang terdiri dari petani sawit mandiri, kepala desa, pengurus koperasi, penyuluh, dan tokoh masyarakat hadir memenuhi ruangan pelatihan. Antusiasme peserta mencerminkan semangat warga Kapuas Hulu untuk menjadikan sawit sebagai sumber ekonomi utama daerah.
Sekretaris Jenderal POPSI sekaligus Pemimpin Media Perkebunan, Hendra J. Purba, menyampaikan apresiasi atas dukungan semua pihak, terutama DPRD dan Pemerintah Kabupaten Kapuas Hulu, yang turut mendorong terselenggaranya kegiatan tersebut.
BACA JUGA: BK CPO November 2025 Ditetapkan US$ 124/MT, PE Capai US$ 96,37/MT
“Luar biasa antusiasmenya. Dengan waktu persiapan yang singkat, kegiatan ini bisa terlaksana berkat dorongan dari Bapak Ketua DPRD dan Bapak Bupati. Target kami 150 peserta karena kapasitas gedung terbatas, padahal banyak yang masih ingin ikut,” ujar Hendra dalam keterangan resmi diterima InfoSAWIT, Jumat (31/10/2026).
Dalam kesempatan itu, Hendra mengingatkan pentingnya penggunaan benih legal dan bersertifikat untuk menghindari kerugian akibat bibit palsu yang masih beredar di masyarakat.
“Saat ini ada 21 produsen benih sawit resmi yang sudah terdaftar. Kami berharap petani tidak tergiur bibit murah tanpa label resmi karena risikonya besar—bisa gagal panen dan merugikan dalam jangka panjang,” tegasnya.
BACA JUGA: SSMS Tegaskan Komitmen Keberlanjutan, Siapkan Ekspansi Rp5,2 Triliun
Sementara itu, Ketua Umum POPSI, Mansuetus Darto, menyoroti potensi besar pengembangan sawit di Kapuas Hulu yang diiringi tantangan infrastruktur dan teknologi.
“Wilayah ini punya lahan luas dan masyarakat yang bersemangat menanam sawit. Namun keterbatasan akses jalan, pasar, dan teknologi menjadi tantangan utama. Karena itu, sawit berkelanjutan adalah jalan tengah antara kebutuhan ekonomi dan kelestarian lingkungan,” jelas Darto.
POPSI, lanjutnya, berkomitmen menjadikan petani sawit sebagai aktor utama dalam rantai nilai industri, bukan sekadar penerima harga. Upaya ini ditempuh melalui pelatihan teknis, penguatan koperasi yang transparan, serta fasilitasi sertifikasi berkelanjutan seperti ISPO.
