Pergeseran Kontribusi: Dari Negara ke Rakyat dan Swasta
Menariknya, pola kepemilikan lahan sawit di Indonesia juga mengalami transformasi besar. Pada periode 1980–1998, perkebunan besar negara (PBN) menguasai sekitar 28,86% dari total luas areal sawit nasional. Namun setelah krisis 1998, kontribusinya anjlok menjadi hanya 6,44%.
Sebaliknya, peran perkebunan rakyat (PR) dan perkebunan besar swasta (PBS) terus meningkat tajam. Pertumbuhan dua sektor inilah yang kini menjadi tulang punggung produksi sawit nasional.
“Rata-rata kontribusi LAD selama 2021–2024 tercatat sebesar 9,17%, menunjukkan masih adanya potensi lahan yang perlu diverifikasi agar seluruh tutupan sawit nasional dapat terpetakan dengan akurat,” demikian catat Outlook Kelapa Sawit 2024, dikutip InfoSAWIT, Minggu (2/11/2025).
BACA JUGA: Panen Lebih Cepat, Produksi Cepat Meningkat, Kisah Sukses Petani dengan Bibit Topaz
Menuju Tata Kelola Sawit Berkelanjutan
Langkah pemerintah memperkuat basis data spasial sawit menjadi krusial dalam konteks implementasi Inpres No. 6 Tahun 2019 tentang Rencana Aksi Nasional Perkebunan Kelapa Sawit Berkelanjutan 2019–2024.
Dalam kebijakan ini, Badan Informasi Geospasial (BIG) memiliki mandat melakukan pembinaan dan penyelenggaraan Informasi Geospasial Tematik (IGT), termasuk peta tutupan kebun sawit yang menjadi dasar bagi perencanaan tata ruang dan pengawasan perizinan.
Pemutakhiran data tersebut diharapkan dapat memperkuat transparansi sektor sawit dan membantu memastikan keseimbangan antara ekspansi produksi, kelestarian lingkungan, dan kepastian hukum atas lahan.
BACA JUGA: Harga CPO KPBN Inacom Withdraw Pada Jumat (31/10), Perdagangan CPO di Bursa Malaysia Ditutup Melemah
Masa Depan Sawit Indonesia
Meski laju ekspansi mulai melandai, industri kelapa sawit masih menjadi penopang utama ekonomi nasional. Tantangan ke depan bukan lagi sekadar menambah luasan, tetapi meningkatkan produktivitas dan keberlanjutan.
Dengan semakin kuatnya kebijakan berbasis data geospasial dan moratorium yang memperketat izin baru, masa depan sawit Indonesia diharapkan beralih dari pertumbuhan kuantitatif menuju kualitas produksi yang berdaya saing tinggi dan ramah lingkungan.
Empat dekade sejak awal perkembangannya, sawit Indonesia telah melewati fase ekspansi besar-besaran dan kini memasuki era baru: era pengelolaan berbasis data, efisiensi, dan keberlanjutan. (T2)
