Rachmat juga menyinggung tantangan eksternal berupa kampanye hitam dan regulasi diskriminatif terhadap sawit. Ia menegaskan bahwa kemenangan Indonesia dalam sengketa sawit di WTO membuktikan bahwa komoditas ini memenuhi prinsip perdagangan dan keberlanjutan internasional.
“Ketika kita berbicara berdasarkan bukti, keadilan masih mungkin diperjuangkan,” ujarnya.
Di akhir sambutannya, Rachmat mengajak seluruh pemangku kepentingan—pemerintah, pengusaha, petani kecil, komunitas lokal, dan mitra internasional—untuk mendorong sawit menjadi simbol kerja sama global.
BACA JUGA: IPOC 2025: Pakar Sawit Dunia Ingatkan, B50 Bisa Jadi Bumerang bagi Indonesia
“Kita bisa menjadikan kelapa sawit bukan sumber kontroversi, melainkan jembatan perdamaian dan pertumbuhan bersama,” tutupnya. (T2)
