InfoSAWIT, KUALA LUMPUR — Harga minyak sawit mentah (CPO) diperkirakan tetap mendapat dukungan kuat pada kisaran RM4.100–RM4.200 per ton pada Desember 2025, dan berpeluang naik hingga RM4.500 per ton. Proyeksi ini disampaikan oleh Malaysian Palm Oil Council (MPOC).
MPOC menilai stabilnya permintaan impor menjelang perayaan Tahun Baru Imlek dan Ramadan menjadi pendorong utama. Di saat yang sama, ketidakpastian kebijakan Indonesia—sebagai produsen sawit terbesar dunia—masih menjadi faktor pendukung harga.
“Laporan pasar menunjukkan pemerintah Indonesia mungkin menyesuaikan kembali bea ekspor untuk menjaga kecukupan bahan baku dalam negeri. Waktu pelaksanaan peningkatan mandatori biodiesel, apakah B45 atau B50, akan menjadi faktor penentu terhadap volume ekspor 2026,” catat MPOC dalam pernyataan resminya, dilansir InfoSAWIT dari theedgemalaysia.com, Sabtu (22/11/2025).
BACA JUGA: ISPO Hilir Resmi Terbit, Pemerintah Perkuat Transparansi Industri Turunan Sawit
Dalam laporannya, MPOC juga menyinggung transformasi industri sawit Malaysia yang semakin gencar memanfaatkan limbah pertanian menjadi sumber bernilai tambah. Inisiatif ini dinilai mampu menekan emisi dan mendukung target net zero 2050, sejalan dengan SDGs 7, 12, dan 13.
Penerapan sertifikasi MSPO serta target net-zero di tingkat industri disebut telah memberikan dampak nyata dalam pengurangan emisi gas rumah kaca. Namun, riset dan inovasi teknologi tetap dibutuhkan agar penerapan teknologi lanjutan bisa dilakukan secara lebih efisien dan terjangkau.
Industri sawit Malaysia mencatat lonjakan produksi signifikan pada Oktober, mencapai 203.000 ton atau naik 11%—level tertinggi dalam sepuluh tahun.
Sabah menjadi penyumbang terbesar dengan kenaikan 19,5% menjadi 72.000 ton, disusul Sarawak yang naik 14,6% ke 61.000 ton. Sementara Semenanjung Malaysia menyumbang 68.000 ton, meningkat 6,5%.
“Produksi yang kuat didorong oleh datangnya musim hujan yang lebih lambat, perbaikan pemupukan, serta pola curah hujan yang menguntungkan sepanjang 2024,” ujar MPOC.
Kinerja ekspor juga menguat pada Oktober, naik 18,6% atau 265.000 ton menjadi 1,69 juta ton. Kawasan Afrika Sub-Sahara mencatat peningkatan paling menonjol dengan rekor 577.000 ton, atau 34% dari total ekspor Malaysia. Ekspor ke China juga naik ke level tertinggi lima bulan terakhir, mencapai 110.000 ton.
BACA JUGA: Petani Sawit Swadaya Ketapang Sabet RSPO Excellence Awards
Meski ekspor tumbuh lebih cepat dibandingkan produksi, stok CPO Malaysia tetap meningkat menjadi 2,46 juta ton—tertinggi sejak April 2019. MPOC menjelaskan kenaikan ini bukan dipicu produksi maupun ekspor, tetapi konsumsi domestik yang lebih lemah.
