InfoSAWIT, TUNISIA – Tunisia dan Indonesia tengah bersiap menandatangani Perjanjian Perdagangan Preferensial atau Preferential Trade Agreement (PTA) pada Januari 2026. Kesepakatan ini mencakup berbagai komoditas pertanian dan pangan. Kabar tersebut pertama kali dilaporkan Jakarta Globe pada 25 November, mengutip Menteri Perdagangan Indonesia Budi Santoso yang menyebut bahwa negosiasi “hampir selesai.”
PTA merupakan kesepakatan yang memberikan kemudahan tarif dan pengurangan hambatan administratif untuk sejumlah barang tertentu antara dua negara. Dalam kerja sama kali ini, Tunisia akan memberikan perlakuan istimewa bagi produk unggulan Indonesia seperti minyak sawit, pisang, kakao, ikan beku, serta benang tekstil.
Sebagai imbalannya, Indonesia akan menurunkan bea masuk bagi beragam produk Tunisia, mulai dari krustasea hingga kurma. Kedua belah pihak meyakini, pemberlakuan PTA akan meningkatkan daya saing produk masing-masing di pasar internasional, terutama dibanding pemasok dari negara lain.
BACA JUGA: Pemerintah Dorong Kemandirian Pangan Jelang 2026, Tantangan Struktural Masih Menghimpit
Dilansir InfoSAWIT dari ecofinagency.com, Minggu (7/12/2025), kesepakatan ini juga dinilai strategis bagi Tunisia, terutama untuk memperkuat ekspor minyak zaitun pada musim 2025/2026. Pemerintah Tunisia pada Oktober lalu menyatakan komitmen untuk memperluas pasar minyak goreng mereka ke wilayah Asia dan Amerika Selatan, guna mengantisipasi surplus produksi yang diperkirakan terjadi tahun depan.
Pada 2024, nilai impor minyak zaitun Indonesia mencapai sekitar US$21 juta, namun hanya 1% yang berasal dari Tunisia. Negara Afrika Utara itu masih menghadapi persaingan ketat dari pemasok utama seperti Italia, Spanyol, Mesir, dan Turki, menurut data Trade Map.
Selain minyak zaitun, Tunisia diperkirakan dapat memanfaatkan peluang pada produk pangan lainnya. Berdasarkan data UNCTAD, Indonesia mengimpor rata-rata US$23,3 miliar produk pangan per tahun sepanjang 2021–2023, menunjukkan terbukanya ruang besar untuk peningkatan perdagangan.
BACA JUGA: Kajian Baru Tegaskan SISKA dan ISPO Berjalan Seiring, Bukan Saling Bertentangan
Dengan hampir rampungnya negosiasi, PTA Tunisia–Indonesia diproyeksikan menjadi momentum penting dalam hubungan dagang kedua negara, sekaligus memperkuat posisi sejumlah komoditas unggulan, termasuk minyak sawit Indonesia, di pasar global. (T2)




















