Kajian IPB: Banjir Bandang–Longsor DAS Aek Garoga Dipicu Siklon Ekstrem, Aktivitas PT TBS Disebut Bukan Penyebab Dominan

oleh -2.175 Kali Dibaca
Editor: Redaksi InfoSAWIT
InfoSAWIT
Dok. Istimewa/ Tim Ahli IPB University menjelaskan secara ilmiah Banjir Bandang–Longsor DAS Aek Garoga, di Ruang Rapat Pusat Studi Reklamasi Tambang, Kampus IPB University, Bogor.

InfoSAWIT, BOGOR – Bencana banjir bandang dan tanah longsor yang menerjang Daerah Aliran Sungai (DAS) Aek Garoga, Tapanuli Tengah, Sumatera Utara, pada 25–26 November 2025, tampaknya akan memasuki babak baru. Peristiwa yang memicu korban, kerusakan wilayah pemukiman, hingga menyulut perhatian aparat penegak hukum itu kini mendapat perhatian dari sisi ilmiah, menyusul terbitnya kajian mendalam Tim Ahli IPB University.

Perkembangan terbaru ini muncul setelah PT Tri Bahtera Srikandi (TBS), perusahaan perkebunan kelapa sawit yang beroperasi di wilayah tersebut, masuk dalam radar penyidikan serius Satgas Penertiban Kawasan Hutan (PKH) dan Bareskrim Polri. PT TBS bahkan sempat dituding sebagai salah satu penyebab utama bencana ekologis tersebut, hingga berujung pada penyegelan sebagian lahan.

Namun, kajian Tim Ahli IPB University menyuguhkan perspektif yang berbeda—bahwa bencana di DAS Aek Garoga lebih tepat dipahami sebagai peristiwa alamiah yang dipicu cuaca ekstrem akibat siklon tropis yang tidak biasa.

BACA JUGA: Harga TBS Sawit Plasma Riau Periode 14-20 Januari 2026 Naik Rp 4,90 per Kg

“Kajian ini menyimpulkan bahwa tidak terdapat bukti kuat yang menempatkan aktivitas PT TBS sebagai penyebab utama (dominant cause) terjadinya banjir bandang dan longsor di DAS Garoga,” kata Ketua Tim Ahli IPB, Prof. Dr. Yanto Santosa, DEA, IPU, dalam keterangan resmi ditulis InfoSAWIT, Rabu (14/1/2026).

Dalam pemaparan itu, Prof. Yanto didampingi dua anggota tim, yakni Dr. Ir. Basuki Sumawinata, M.Agr dan Dr. Ir. Idung Risdiyanto, M.Sc., yang menjelaskan hasil analisis dari sisi hidrologi, geomorfologi, serta perubahan tutupan lahan di kawasan DAS Aek Garoga.

Tim Ahli IPB ini melakukan observasi langsung ke lokasi, mengumpulkan data lapangan, serta menyerap keterangan dari tokoh masyarakat dan warga setempat. Mereka menegaskan seluruh temuan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Temuan ini pun dinilai berpotensi mengubah arah narasi hukum yang saat ini berkembang.

BACA JUGA: Harga CPO KPBN Inacom Naik 1,07 Persen Pada Selasa (13/1), Harga CPO di Bursa Malaysia Menguat

 

Pemerintah Menuding Ada Pembalakan dan Kelalaian Mitigasi

Sebelumnya, Satgas PKH dan Bareskrim Polri menempatkan PT TBS dalam penyidikan intensif. Sejumlah temuan awal disebut mengarah pada aktivitas pembukaan lahan dan dugaan pembalakan di area rawan pada punggung bukit sepanjang DAS Garoga, yang dinilai memicu kerusakan sistem serapan air alami.

Pasca banjir, petugas menyebut menemukan ribuan kubik kayu hanyut, dengan jenis vegetasi yang diklaim identik dengan kawasan yang baru dibuka perusahaan di titik kilometer 6 dan 8. PT TBS yang beroperasi sejak 2023 dengan izin lahan mencapai 2.497,52 hektare itu juga dituding tidak membangun kolam pengendapan, sehingga limpasan air hujan dinilai langsung membawa lumpur dan material kayu ke wilayah pemukiman.

Sebagai langkah tegas, Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) menyegel sebagian lahan PT TBS seluas 277 hektare, menghentikan operasional pabrik, serta mendorong evaluasi Izin Usaha Perkebunan (IUP) yang disebut terancam dicabut pemerintah daerah.

BACA JUGA: Airlangga Tegaskan B50 Belum Jalan di 2026, Prabowo Minta Mandatori Biodiesel Tetap B40

 

IPB: Pemicu Utama Siklon Senyar dan Curah Hujan “Tak Lazim”

Di sisi lain, Tim Ahli IPB University menempatkan faktor cuaca ekstrem sebagai pemicu utama. Mereka menyebut Siklon Tropis Senyar memicu curah hujan luar biasa hingga lebih dari 500 mm dalam tiga hari (25–27 November 2025), setara dengan sekitar 5.000 m³ air per hektare.

Angka tersebut jauh melampaui ambang batas klasifikasi iklim “bulan basah” yang hanya sekitar 200 mm per bulan, sehingga kondisi ini disebut sangat ekstrem, terlebih terjadi di wilayah dekat khatulistiwa yang pada umumnya jarang terkena siklon tropis kuat.

Tak hanya itu, kondisi geologi dinilai memainkan peran besar. Tim IPB menjelaskan wilayah DAS Garoga memiliki lapisan tanah yang relatif tipis dan berada di atas batuan induk yang masif dan kedap air. Saat hujan ekstrem berlangsung, lapisan tanah menjadi jenuh, kehilangan daya ikat, dan melampaui batas mencair (liquid limit), membuat tanah berubah menyerupai lumpur yang mudah meluncur mengikuti gravitasi.

InfoSAWIT

Dapatkan update berita seputar harga TBS, CPO, biodiesel dan industri kelapa sawit setiap hari dengan bergabung di Grup Telegram "InfoSAWIT - News Update", caranya klik link InfoSAWIT-News Update, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel. Bisa juga IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS.


Atau ikuti saluran Whatsapp "InfoSAWIT News", caranya klik link InfoSAWIT News dan Group Whatsapp di InfoSAWIT News Update

Untuk informasi langganan dan Iklan silahkan WhatsApp ke Marketing InfoSAWIT_01 dan Marketing InfoSAWIT_02 atau email ke sawit.magazine@gmail.com