InfoSAWIT, KUALA LUMPUR – Kenanga Investment Bank Bhd memperkirakan harga crude palm oil (CPO) akan bergerak di kisaran RM4.000 per ton sepanjang 2026, turun dibandingkan rata-rata RM4.308 per ton pada 2025. Proyeksi ini didorong oleh kondisi pasokan minyak nabati global yang dinilai masih ketat, meskipun ada potensi peningkatan suplai pada tahun depan.
Dalam catatan riset yang dirilis Jumat (16/1), Kenanga menilai kenaikan stok diperkirakan belum cukup kuat untuk mendorong perbaikan inventori secara signifikan. Di sisi lain, tekanan biaya disebut mulai muncul, namun margin sektor hulu dinilai masih akan tetap terkendali.
Margin Hulu Terkendali, Hilir Masih Minim Kepastian
Kenanga juga menyoroti bahwa prospek sektor hilir masih belum jelas, sementara kontribusi non-perkebunan seperti properti dan energi terbarukan diperkirakan lebih terlihat bagi perusahaan-perusahaan grup terintegrasi.
BACA JUGA: Produk Indonesia Kian Mantap di Rak Ritel Modern Pakistan, Imtiaz Jadi Etalase Utama
“Visibilitas hilir masih lemah, namun kontribusi non-perkebunan dari properti dan energi terbarukan bisa lebih berarti. Karena itu, di kelompok perkebunan terintegrasi, fokus kini semakin mengarah pada peningkatan imbal hasil aset,” tulis Kenanga, dilansir InfoSAWIT dari The Edge Malaysia, Senin (19/1/2026).
Dampak Rendahnya Produktivitas Indonesia Masih Terasa
Kenanga mencatat rendahnya produktivitas Indonesia pada 2024 sempat mendorong harga CPO melonjak ke RM4.700–RM4.800 per ton pada kuartal IV 2024 hingga kuartal I 2025. Namun setelah itu harga dinilai mulai stabil dan kembali berada di sekitar level RM4.000 per ton.
Selain faktor cuaca dan produksi, kebijakan biodiesel Indonesia juga menjadi perhatian pelaku pasar. Kenanga menyebut sikap Indonesia yang mempertahankan program B40 serta menunda penerapan B50 hingga setelah pertengahan 2026 ikut mendukung pandangan harga yang lebih hati-hati.
BACA JUGA: GAPKI Dorong Intensifikasi Ketimbang Ekspansi Sawit Baru di Papua
Dalam laporan tersebut, Kenanga mempertahankan rekomendasi “neutral” untuk sektor perkebunan. Alasannya, peluang pertumbuhan dan katalis kenaikan masih terbatas, namun kondisi laba dinilai tetap sehat dengan dukungan neraca keuangan yang cukup kuat serta valuasi yang relatif tidak mahal.
Kenanga menilai pemain skala kecil menawarkan valuasi yang menarik, tetapi perusahaan besar yang terintegrasi dan terdiversifikasi diperkirakan lebih mampu bertahan apabila harga sawit melemah. (T2)
