InfoSAWIT, KUALA LUMPUR – Kawasan Afrika diperkirakan akan memainkan peran kunci dalam dinamika pasar minyak sawit global dalam satu dekade ke depan, baik sebagai pasar konsumsi utama maupun sebagai produsen yang kian diperhitungkan. Proyeksi tersebut mencuat seiring pertumbuhan populasi yang pesat dan meningkatnya kebutuhan pangan di kawasan tersebut.
Chief Sustainability Officer Wilmar International Ltd, Jeremy Goon Kin Wai, mengatakan pelaku industri sawit global perlu mulai mengalihkan fokus ke Afrika dengan memanfaatkan permintaan struktural jangka panjang yang didorong oleh pertumbuhan penduduk.
“Afrika akan membentuk dinamika permintaan minyak sawit selama beberapa dekade ke depan, baik sebagai konsumen maupun produsen. Namun, membuka potensi pasar ini sangat bergantung pada kebijakan yang konsisten dan mendukung, infrastruktur dan logistik yang memadai, tata kelola lahan yang jelas, serta kerangka keberlanjutan yang pragmatis,” ujar Jeremy, dilansir InfoSAWIT dari Bernama, Rabu (11/2/206).
Ia menambahkan, dengan populasi Afrika yang diproyeksikan meningkat hingga sekitar 2,5 miliar jiwa pada 2050 dan mendekati empat miliar pada akhir abad ini, kawasan tersebut akan menjadi ujian nyata bagi daya saing minyak sawit. Persimpangan antara keterjangkauan harga, regulasi, dan tuntutan keberlanjutan akan semakin menentukan, seiring percepatan urbanisasi dan meningkatnya kebutuhan ketahanan pangan.
Pernyataan tersebut disampaikan Jeremy dalam sesi panel bertajuk CEO Roundtable: The Next Decade for Malaysian Palm Oil, yang dimoderatori CEO Malaysian Palm Oil Council, Belvinder Sron, pada Palm and Lauric Oils Price Outlook Conference and Exhibition 2026 (POC) 2026 yang digelar di Kuala Lumpur.
Dalam kesempatan yang sama, CEO Grup FGV Holdings Bhd, Datuk Fakhrunniam Othman, menyoroti keterbatasan pemanfaatan lahan sebagai tantangan nyata bagi industri minyak sawit global. Menurutnya, sudah saatnya industri menilai kembali ketersediaan lahan di dunia serta seberapa efisien lahan tersebut dikelola dan dimanfaatkan.
BACA JUGA: Harga TBS Sawit Plasma Riau Periode 11-24 Februari 2026 Turun Rp 65,82 per Kg
“Ekspansi lahan bukan lagi pendorong utama pertumbuhan. Masa depan industri terletak pada peningkatan produktivitas, optimalisasi operasional, dan diversifikasi yang mampu membuka nilai tambah,” ujar Fakhrunniam.
Ia menegaskan bahwa strategi lahan tidak semata berbicara tentang pelaku dan tingkat produktivitas, melainkan juga tentang membangun ketahanan jangka panjang, menciptakan kualitas sistem produksi yang lebih baik, serta mendukung pembangunan masyarakat dan negara.
Untuk mendorong pertumbuhan hasil, Fakhrunniam menyarankan agar industri lebih fokus pada peningkatan kualitas bahan tanam dan produktivitas kebun, perencanaan replanting yang efisien dan terstruktur, serta optimalisasi operasional di tingkat estate. (T2)
