InfoSAWIT, KUALA LUMPUR – Ketua Malaysian Palm Oil Council (MPOC), Datuk Carl Bek-Nielsen, menegaskan bahwa minyak sawit memiliki peran strategis dalam menjawab tantangan ketahanan pangan global, khususnya di tengah keterbatasan lahan dan tuntutan untuk menekan laju deforestasi.
Pernyataan tersebut disampaikan Bek-Nielsen saat berbicara dalam Palm & Lauric Oils Price Outlook Conference 2026 (POC) ke-37, Selasa. Ia mengingatkan bahwa dunia menghadapi kebutuhan untuk memproduksi sekitar 50% lebih banyak pangan pada tahun 2100, sementara ketersediaan lahan justru semakin terbatas.
“Kita tidak memiliki kemewahan untuk terus memperluas lahan. Tantangan ke depan adalah bagaimana meningkatkan produksi pangan tanpa memicu deforestasi yang tidak terkendali,” ujar Bek-Nielsen, dilansir InfoSAWIT dari laman Instagram MPOC, Rabu (11/2/2026).
BACA JUGA: Afrika Diproyeksikan Jadi Penentu Baru Pasar Sawit Global Dekade Mendatang
Menurutnya, sektor pertanian—termasuk industri kelapa sawit—dituntut untuk meningkatkan produktivitas secara signifikan. Upaya tersebut hanya dapat dicapai apabila seluruh pemangku kepentingan, baik yang berada di dalam maupun di luar industri, fokus pada peningkatan hasil (yield) dari lahan yang sudah ada.
Bek-Nielsen menekankan pentingnya kembali pada pengukuran dan indikator yang tepat dalam menilai kinerja keberlanjutan. Ia menilai bahwa ukuran-ukuran yang digunakan saat ini perlu dievaluasi agar benar-benar mencerminkan dampak nyata terhadap produktivitas dan lingkungan.
“Keberlanjutan tidak bisa dipisahkan dari produktivitas. Peningkatan hasil akan membantu menekan deforestasi, mengurangi emisi gas rumah kaca, sekaligus melindungi keanekaragaman hayati,” katanya.
BACA JUGA: Panen Kedelai Brasil Kian Cepat, Tantangan Cuaca Masih Membayangi
Ia mengakui bahwa industri sawit tidak sempurna dan masih menghadapi berbagai tantangan. Namun, Bek-Nielsen menegaskan bahwa minyak sawit tetap menjadi komoditas yang esensial bagi ketahanan dan keterjangkauan pangan global.
“Minyak sawit adalah bagian penting dari keamanan pangan dan keterjangkauan harga. Masa depan itu ada, tetapi hanya jika keberlanjutan dibangun sejak awal, bukan sekadar ditempelkan di belakang,” ujarnya.
Bek-Nielsen juga mengingatkan bahwa ke depan, reputasi merek dan izin usaha perusahaan akan semakin bergantung pada komitmen keberlanjutan yang nyata. Pasar global, menurutnya, akan semakin jeli membedakan antara komitmen yang bersifat substansial dan sekadar retorika.
BACA JUGA: Harga TBS Sawit Swadaya Riau Periode 11-24 Februari 2026 Turun Rp. 26,17 per Kg
Ia menutup pernyataannya dengan ajakan kepada pelaku industri untuk lebih jernih dalam membaca tantangan, memilah sinyal yang relevan dari kebisingan informasi, serta tetap berfokus pada peningkatan produktivitas berkelanjutan sebagai fondasi masa depan industri sawit. (T2)
