InfoSAWIT, SINGAPURA – Kawasan Asia Pasifik dinilai memiliki potensi bahan baku (feedstock) yang signifikan untuk mendukung pengembangan Sustainable Aviation Fuel (SAF). Namun demikian, potensi tersebut tidak serta merta mampu mendorong percepatan skala produksi SAF tanpa adanya kredibilitas pasokan lintas pasar serta sistem keberlanjutan yang terverifikasi.
Dilansir InfoSAWIT dari Linkedin resmi Apical, Jumat (20/2/2026), Head of Green Energy Apical, Lamberto Gaggiotti, menegaskan bahwa keberhasilan pengembangan SAF tidak hanya bergantung pada ketersediaan bahan baku, tetapi juga pada keselarasan sistem dan standar yang berlaku di berbagai negara.
“Yang terpenting adalah apakah pasokan dapat dipercaya di berbagai pasar, apakah aspek keberlanjutan dapat diverifikasi, serta apakah sistem yang digunakan telah selaras. Ketika fondasi tersebut tersedia, investasi dan pertumbuhan akan mengikuti,” ujar Gaggiotti dalam diskusi panel Asia Sustainable Aviation Fuel Association (ASAFA) pada ajang Singapore Airshow 2026.
BACA JUGA: Saham NSSS Melonjak 20%, Emiten Sawit Nusantara Sawit Sejahtera Makin Dilirik Investor
Keselarasan Kebijakan dan Standar Jadi Tantangan SAF
Dalam forum tersebut, sejumlah pelaku industri di sepanjang rantai nilai, seperti Airbus, Aether Fuels, Nestlé dan S&P Global Energy, turut membahas bahwa percepatan pengembangan SAF memerlukan harmonisasi kebijakan, standar kredibel, konsistensi lintas negara, serta sistem ketertelusuran (traceability) yang kuat.
Menurut para pelaku industri, tanpa adanya keselarasan kebijakan antar pasar global, investasi pada sektor SAF berisiko terhambat meskipun pasokan bahan baku tersedia dalam jumlah besar.
Apical Perkuat Hilirisasi melalui Pengembangan Biofuel Generasi Kedua
Sebagai salah satu pemasok feedstock utama dengan sistem ketertelusuran hingga ke asal bahan baku, Apical juga tengah memperluas pengembangan hilir melalui pembangunan fasilitas biofuel generasi kedua (second-generation/2G) berkapasitas 500.000 ton di kawasan Eropa Selatan.
BACA JUGA: 5 Isu Perdagangan Sawit Indonesia–India
Fasilitas tersebut dirancang untuk mendukung kebutuhan pasar Eropa terhadap bahan bakar penerbangan berkelanjutan, seiring meningkatnya permintaan terhadap solusi dekarbonisasi di sektor aviasi global. (T2)
