InfoSAWIT, JAKARTA – Di tengah tekanan global terhadap industri kelapa sawit, ancaman serius justru datang dari faktor yang tak terlihat, seperti mikroba, patogen, hingga serangga pembawa penyakit. Hal ini menjadi perhatian utama Badan Karantina Indonesia (Barantin) dalam menjaga keberlanjutan sektor strategis tersebut.
Analis Perkarantinaan Tumbuhan Ahli Utama Barantin, Antarjo Dikin, menegaskan bahwa perlindungan sawit nasional tidak hanya berkaitan dengan produksi dan ekspor, tetapi juga menyangkut biosekuriti sebagai benteng utama industri.
“Setiap agen hayati atau benih yang masuk ke Indonesia harus dipastikan aman sejak di depan gerbang,” ujarnya.
BACA JUGA: Indonesia Perkuat Fondasi Genetik Sawit, 83 Varietas Unggul Disiapkan Hadapi Tantangan Masa Depan
Pengawasan Ketat dari Pintu Masuk hingga Lapangan
Antarjo menjelaskan, setiap pemasukan benih maupun organisme seperti serangga penyerbuk dari luar negeri, termasuk dari Tanzania, wajib melalui prosedur karantina yang ketat dan berlapis.
“Jangan sampai ada organisme pengganggu tumbuhan atau mikroba berbahaya yang ikut masuk. Sekali lolos, dampaknya bisa sangat besar bagi perkebunan sawit kita,” tegasnya.
Ia menambahkan, sistem karantina Indonesia kini telah berkembang dari sekadar administratif menjadi pengawasan komprehensif, mulai dari pemeriksaan di pintu masuk, pemantauan di lapangan, hingga pengawasan pasca-tanam.
BACA JUGA: Produktivitas Sawit RI Tertahan, GAPKI Soroti Keterbatasan Genetik dan Risiko Biologis
Barantin juga tengah mengembangkan sistem pemantauan berbasis teknologi, termasuk pemanfaatan data spasial dan satelit untuk memperkuat pengawasan biosekuriti.
“Di Australia dan Belanda, pengawasan sudah berbasis data spasial. Kita sedang menuju ke arah itu,” jelas Antarjo.
Kolaborasi Regional dan Pengawasan Agen Hayati
Dalam upaya mencegah masuknya patogen lintas batas, Barantin juga memperkuat kerja sama regional bersama negara tetangga seperti Malaysia dan Brunei, khususnya di wilayah perbatasan.
BACA JUGA: Prabowo Bangga Sawit Jadi Energi Strategis, Ingatkan Ancaman Lonjakan Harga Minyak Dunia
Pengawasan dilakukan tidak hanya terhadap pergerakan benih, tetapi juga organisme hidup seperti serangga penyerbuk yang berpotensi menjadi vektor penyakit.
“Kita pantau pergerakan serangga penyerbuk, termasuk agen hayati yang sudah dirilis dari luar negeri seperti dari Tanzania,” katanya.
Antarjo menegaskan bahwa sistem karantina saat ini telah dilengkapi dengan mekanisme sertifikasi yang menjamin keamanan benih hingga ke tingkat lapangan.
“Setiap benih yang keluar dari balai karantina memiliki sertifikat dan diawasi. Artinya, negara menjamin keamanannya,” ujarnya. (T2)
