SISKA: Potensi Besar, Realitas yang Tertahan

oleh -283 Kali Dibaca
Editor: Redaksi InfoSAWIT
InfoSAWIT
Dok. InfoSAWIT/Penerapan integrasi sawit sapi.

InfoSAWIT, JAKARTA – Integrasi sawit dan sapi (SISKA) digadang sebagai jalan pintas menuju swasembada daging. Tapi di lapangan, ia masih terjebak antara ekosistem yang kompleks dan logika pasar yang belum sepenuhnya berpihak.

Di hamparan kebun sawit yang selama ini lebih sering dibaca sebagai lanskap monokultur, faktanya memiliki sesuatu yang berbeda, sebuah ekosistem yang diam-diam menyimpan cadangan nutrisi besar—bahkan hingga 80–90 persen—yang kerap luput dari perhatian.

Saat berbicara pada 3rd Integrated Cattle and Oil Palm (ICOP) Conference, yang dihadiri InfoSAWIT, awal April 2026, Prof. Luki Abdullah dari Pusat Studi Hewan Tropika (Centras) IPB University, mencatat bahwa integrasi sawit dan sapi bukan sekadar praktik tumpang sari biasa. Ia adalah upaya meredefinisi cara pandang terhadap kebun sawit—dari sekadar penghasil minyak menjadi sistem produksi biologis yang kompleks dan saling terhubung.

BACA JUGA: PP 24 Ekspor SDA: Ketika Devisa Negara Berhadapan dengan Kepercayaan Pasar dan Nasib Petani Sawit

“Sebagian besar nutrien itu sebenarnya sudah tersedia di dalam sistem itu sendiri. Tinggal bagaimana kita mengelolanya,” ujar Prof. Luki, menekankan bahwa efisiensi nutrisi dalam sistem sawit bisa melampaui padang penggembalaan konvensional.

Namun, klaim efisiensi itu tidak berdiri sendiri. Di baliknya, ada variabel yang kerap diabaikan, manajemen kebun sawit itu sendiri. Umur tanaman, pola pemupukan, hingga intensitas kanopi, semuanya menentukan wajah nutrisi yang tersedia di bawahnya.

Di bawah kanopi sawit, tumbuh berbagai vegetasi pakan—rumput alami, leguminosa, hingga residu organik seperti bungkil inti sawit dan pelepah. Ini adalah “bank nutrisi” yang tidak hanya menyediakan energi dan serat, tetapi juga mineral penting. Meski demikian, Prof. Luki mencatat adanya defisit pada beberapa unsur krusial seperti kalsium dan fosfor, yang berpotensi memengaruhi performa ternak.

BACA JUGA: Danantara Pastikan Ekspor Komoditas Strategis Tetap Lancar, Fokus Awasi Praktik Under-Invoicing

Yang menarik, dinamika nutrisi ini tidak statis. Dalam studi panjang yang dilakukan Centras IPB bersama perusahaan sawit di Pangkalan Bun sepanjang 2015–2020, perubahan komposisi vegetasi di bawah kanopi terbukti memengaruhi keseimbangan nutrisi secara signifikan.

Ketika kanopi semakin menutup seiring bertambahnya umur tanaman, keragaman spesies tanaman pakan menyusut. Dari yang semula beragam, perlahan hanya tersisa dua atau tiga spesies dominan. Perubahan ini tidak hanya berdampak pada kualitas pakan, tetapi juga pada fisiologi dan performa ternak.

“Ini bukan sistem yang bisa dipukul rata. Setiap fase umur sawit menciptakan ekosistem nutrisi yang berbeda,” kata Prof. Luki. (*)

Lebih lengkap Baca Majalah InfoSAWIT Edisi April 2026

Dapatkan update berita seputar harga TBS, CPO, biodiesel dan industri kelapa sawit setiap hari dengan bergabung di Grup Telegram "InfoSAWIT - News Update", caranya klik link InfoSAWIT-News Update, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel. Bisa juga IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS.


Atau ikuti saluran Whatsapp "InfoSAWIT News", caranya klik link InfoSAWIT News

Untuk informasi langganan dan Iklan silahkan WhatsApp ke Marketing InfoSAWIT_01 dan Marketing InfoSAWIT_02 atau email ke sawit.magazine@gmail.com