“Indonesia memiliki keunggulan tersendiri melalui keberadaan perkebunan sawit yang sangat luas. Integrasi sawit dan sapi merupakan solusi yang sesuai dengan kondisi nasional dan dapat menjadi keunggulan kompetitif kita,” ujarnya.
Efisiensi Kebun dan Peningkatan Produktivitas
Selain mendukung peningkatan populasi ternak, integrasi sawit-sapi juga memberikan manfaat langsung bagi sektor perkebunan. Kehadiran sapi di areal kebun membantu mengendalikan pertumbuhan gulma secara alami sehingga biaya pemeliharaan kebun dapat ditekan.
Bahkan, biaya pembersihan gulma disebut dapat berkurang hingga 50–70 persen. Di sisi lain, kotoran ternak yang dihasilkan dapat dimanfaatkan sebagai pupuk organik untuk meningkatkan kesuburan tanah dan mendukung produktivitas tanaman sawit.
BACA JUGA: Richard Armstrong Slansy: SISKA Harus Menguntungkan, Bukan Sekadar Konsep
Ranch Manager PT Buana Karya Bhakti, Wahyu Darsono, menjelaskan perusahaan mulai menjalankan program tersebut pada 2016 dengan investasi awal sekitar Rp6 miliar untuk pengadaan 300 ekor sapi dan pembangunan sarana pendukung.
“Sekarang populasi ternak kami sudah mencapai sekitar 1.500 ekor. Untuk sapi jantan sebagian dipasarkan setiap tahun, terutama menjelang Iduladha, sedangkan sapi betina tetap dipertahankan sebagai indukan guna menjaga pertumbuhan populasi,” jelasnya.
Jadi Role Model Nasional
Sementara itu, Kepala Dinas Perkebunan dan Peternakan Kalimantan Selatan, Suparmi, mengungkapkan bahwa program integrasi sawit-sapi yang dijalankan PT Buana Karya Bhakti telah ditetapkan oleh Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian sebagai salah satu model percontohan nasional.
BACA JUGA: Harga TBS Sawit Kalbar Periode II-Juni 2026 Naik Rp264 per Kg
Menurutnya, keberhasilan program tersebut dapat menjadi referensi bagi pengembangan integrasi sektor perkebunan dan peternakan di berbagai wilayah Indonesia.
Ia berharap dukungan pemerintah pusat serta kolaborasi antara perusahaan perkebunan, pemerintah daerah, sektor kehutanan, pertambangan, dan pemangku kepentingan lainnya dapat mempercepat perluasan program serupa.
“Integrasi sawit-sapi tidak hanya berpotensi meningkatkan keuntungan usaha perkebunan, tetapi juga mendukung target swasembada protein hewani serta memperkuat ketahanan pangan nasional,” tutupnya. (T2)
