InfoSAWIT, TANAH BUMBU – Pemerintah menilai program integrasi perkebunan kelapa sawit dan peternakan sapi dapat menjadi salah satu strategi efektif untuk meningkatkan produksi daging sapi nasional sekaligus mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor.
Pandangan tersebut disampaikan Wakil Menteri Koordinator Bidang Pangan Republik Indonesia, Hanif Faisol Nurofiq, saat meninjau Program Sistem Integrasi Kelapa Sawit-Sapi Berbasis Kemitraan Usaha Ternak Inti Plasma (SISKA KU INTIP) yang dikelola PT Buana Karya Bhakti di Kecamatan Satui, Kabupaten Tanah Bumbu, Kalimantan Selatan, Selasa.
Dalam kunjungan tersebut, Hanif menilai model integrasi sawit dan sapi yang diterapkan perusahaan telah menunjukkan hasil nyata. Berawal dari sekitar 300 ekor sapi pada tahun 2016, populasi ternak kini berkembang menjadi hampir 1.500 ekor melalui sistem pembiakan alami.
BACA JUGA: Agrinas Palma Gandeng Konsorsium Korea, Bidik Hilirisasi Biomassa Sawit dan Energi Hijau
Menurutnya, capaian tersebut menunjukkan bahwa integrasi sektor perkebunan dan peternakan memiliki peluang besar untuk mendukung ketahanan pangan hewani nasional.
“Model ini mungkin terlihat sederhana, tetapi memiliki potensi besar untuk meningkatkan ketersediaan sapi dalam negeri. Sistem pembiakan alami yang diterapkan juga terbukti efektif dalam meningkatkan populasi ternak,” ujar Hanif, dalam keterangan resmi dilansir InfoSAWIT dari Pemprov Kalsel, Kamis (18/6/2026).
Potensi Besar Kalimantan Selatan
Hanif mengungkapkan, Kalimantan Selatan memiliki peluang besar untuk mengembangkan integrasi sawit-sapi. Dari total sekitar 480 ribu hektare areal perkebunan sawit di provinsi tersebut, sekitar 250 ribu hektare dinilai berpotensi untuk dimanfaatkan sebagai kawasan pengembangan peternakan terintegrasi.
BACA JUGA: Harga TBS Sawit Swadaya Riau Periode 17-23 Juni 2026 Naik Rp21,39 per Kg
Jika potensi tersebut dapat dioptimalkan, diperkirakan sedikitnya 20 ribu ekor sapi dapat dipelihara di kawasan perkebunan sawit. Jumlah tersebut dinilai mampu membantu menutup defisit kebutuhan sapi di Kalimantan Selatan yang saat ini masih berkisar 20 ribu ekor.
Lebih jauh, Hanif menilai konsep serupa layak diperluas ke berbagai daerah sentra sawit di Indonesia. Dengan luas perkebunan sawit nasional yang mencapai lebih dari 17 juta hektare, integrasi sawit-sapi diperkirakan berpotensi menghasilkan hingga 1,3 juta ekor sapi.
“Apabila program ini dikembangkan secara lebih luas, kontribusinya terhadap pemenuhan kebutuhan daging nasional akan sangat signifikan,” katanya.
Menjawab Tantangan Pasokan Daging Nasional
Saat ini kebutuhan daging sapi Indonesia diperkirakan mencapai sekitar 800 ribu ton per tahun. Namun produksi domestik baru mampu memenuhi sekitar separuh kebutuhan tersebut atau sekitar 400 ribu ton, sehingga kekurangannya masih harus dipenuhi melalui impor dari sejumlah negara pemasok.
Menurut Hanif, pengembangan model integrasi sawit-sapi dapat menjadi salah satu instrumen strategis untuk memperkuat kemandirian pangan nasional, terutama dalam memenuhi kebutuhan protein hewani masyarakat.
Ia menegaskan bahwa pengembangan peternakan sapi di Indonesia perlu mengedepankan pendekatan yang sesuai dengan karakteristik wilayah tropis, bukan sekadar mengadopsi model peternakan dari negara-negara yang memiliki padang penggembalaan luas seperti Australia maupun Brasil.
