Fabby menilai bioetanol memiliki karakteristik harga yang relatif lebih mudah dikendalikan dibandingkan biodiesel berbasis CPO yang sangat dipengaruhi dinamika pasar ekspor minyak sawit.
Karena itu, pengembangan program campuran bensin berbasis bioetanol seperti E10 dan E20 dinilai perlu mendapatkan perhatian lebih besar dalam kebijakan energi nasional ke depan.
Produktivitas Sawit Jadi Tantangan Baru
Di sisi lain, IESR juga menyinggung faktor pasokan bahan baku yang berpotensi menjadi tantangan bagi implementasi B50. Salah satu yang menjadi perhatian adalah dampak fenomena Super El Niño yang sebelumnya menekan produktivitas perkebunan kelapa sawit di Indonesia.
Menurut Fabby, penurunan produksi sawit akibat tekanan iklim dapat memengaruhi ketersediaan CPO untuk kebutuhan pangan, ekspor, dan energi secara bersamaan.
Saat ini Indonesia telah menerapkan program B40 yang dinilai relatif sesuai dengan kapasitas produksi nasional. Sementara itu, implementasi B50 akan menjadikan Indonesia sebagai negara dengan tingkat campuran biodiesel berbasis sawit tertinggi di dunia, melampaui negara-negara produsen sawit lainnya.
Meski mendukung upaya pemerintah memperkuat ketahanan energi nasional, IESR menilai keberhasilan program B50 akan sangat bergantung pada keseimbangan antara ketersediaan bahan baku, daya saing harga, dan kemampuan pemerintah mengelola dampak fiskal yang mungkin muncul di masa mendatang. (T2)
