Mengatasi Pencurian Sawit, Ketika Pendekatan Keamanan Tak Lagi Cukup

oleh -833 Kali Dibaca
Editor: Redaksi InfoSAWIT
InfoSAWIT
Dok. InfoSAWIT/Ilustrasi Tandan Buah Segar (TBS) Sawit.

Hal yang sama berlaku di lingkungan internal perusahaan. Karyawan tidak lagi cukup dipandang sebagai tenaga produksi. Mereka perlu diperlakukan sebagai aset strategis. Program yang membangun emotional engagement, memperkuat sense of ownership, serta menjamin kesejahteraan yang layak akan melahirkan loyalitas yang jauh lebih efektif dibandingkan sekadar pengawasan.

Karyawan yang merasa memiliki perusahaan akan menjadi garis pertahanan pertama dalam menjaga aset produktif sekaligus mengurangi potensi keterlibatan orang dalam.

Dengan demikian, mitigasi pencurian sesungguhnya tidak hanya ditentukan oleh jumlah personel keamanan, melainkan oleh kualitas infrastruktur sosial yang dibangun perusahaan.

BACA JUGA: UGM Dorong Penguatan Diplomasi Sawit Indonesia untuk Perluas Akses Pasar Global

Pendekatan keamanan yang represif perlahan perlu bergeser menuju pendekatan sosial yang kolaboratif.

Perusahaan dapat membangun ruang dialog yang hidup dengan masyarakat melalui pembukaan kesempatan kerja bagi pemuda desa, kemitraan langsung dengan organisasi petani tanpa perantara, pengembangan usaha lokal yang memasok kebutuhan perusahaan maupun karyawan, pembangunan sarana desa, dukungan terhadap kegiatan keagamaan, hingga penghormatan terhadap adat dan budaya setempat.

Semua itu bukan sekadar program tanggung jawab sosial perusahaan. Ia merupakan investasi jangka panjang untuk membangun kepercayaan.

BACA JUGA: Benny Wachjudi, Arsitek Diplomasi Sawit Indonesia dan Mantan Direktur Eksekutif CPOPC, Tutup Usia

Dalam konteks global, pendekatan semacam ini justru menjadi semakin penting. Standar keberlanjutan seperti ISPO, RSPO, NDPE (No Deforestation, Peat & Exploitation), hingga EUDR tidak lagi hanya berbicara mengenai lingkungan. Hubungan sosial yang adil, harmonis, dan bebas eksploitasi kini menjadi bagian yang tak terpisahkan dari tuntutan pasar internasional.

Karena itu, memperkuat tata kelola sosial serta mendorong korporatisasi petani bukan semata-mata strategi mengurangi pencurian TBS. Lebih dari itu, langkah tersebut merupakan prasyarat agar industri sawit Indonesia tetap memiliki daya saing dan memperoleh tempat dalam rantai pasok global yang semakin menuntut praktik keberlanjutan secara menyeluruh. (*)

Oleh: Dr. Veritia Sukarta / Peneliti Ekonomi & Manajemen Sawit | Pemimpin Redaksi KabarSDGs.

Disclaimer: Artikel merupakan pendapat pribadi, sepenuhnya menjadi tanggungjawab penulis dan tidak ada kaitannya dengan InfoSAWIT.


InfoSAWIT

Dapatkan update berita InfoSAWIT setiap hari dengan bergabung di Grup Telegram "InfoSAWIT - News Update", caranya klik link InfoSAWIT-News Update, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel. Bisa juga IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS.


Atau ikuti saluran Whatsapp "InfoSAWIT News", caranya klik link InfoSAWIT News

Untuk informasi langganan dan Iklan silahkan WhatsApp ke Marketing InfoSAWIT_01 dan Marketing InfoSAWIT_02 atau email ke sawit.magazine@gmail.com