4 Anak Usaha KAS Group Raih ISPO, Targetkan Seluruh Kebun Rampung Tersertifikasi di 2027

oleh -392 Kali Dibaca
Editor: Redaksi InfoSAWIT
InfoSAWIT
Dok. InfoSAWIT/Tim Sustainability KAS Group bersama tim lembaga sertifikasi PT Global Gateway Certifications Indonesia (GGCI), saat penyerahan sertifikat ISPO, di Jakarta.

Di tengah tuntutan pasar dan ketatnya regulasi, sertifikasi ISPO menjadi ukuran baru tata kelola industri sawit. KAS Group memilih menjadikannya lebih dari sekadar kewajiban administratif. Enam perusahaan yang telah tersertifikasi menjadi pijakan menuju target yang lebih besar, seluruh unit usaha bersertifikat ISPO pada 2027.

InfoSAWIT, JAKARTA – Di dunia perkebunan kelapa sawit, sertifikat sering kali dipandang sebagai garis akhir. Padahal, bagi sebagian perusahaan, sertifikasi justru menjadi titik awal dari perjalanan yang lebih panjang, menjaga kepatuhan, merawat keberlanjutan, dan memastikan setiap proses berjalan sesuai aturan.

Pandangan itulah yang tampaknya dipegang oleh Kalimantan Agro Sukses (KAS) Group. Pada awal Juni 2026, empat anak usahanya—PT Agro Manunggal Selaras (AMS), PT Borneo Citra Persada Jaya (BCPJ), PT Borneo Citra Persada Abadi (BCPA), dan PT Borneo Citra Persada Mandiri (BCPM)—resmi mengantongi sertifikat Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO). Sertifikasi tersebut mencakup areal sekitar 50 ribu hektare dan tiga pabrik kelapa sawit yang beroperasi di Kalimantan Timur.

Pencapaian itu melengkapi dua sertifikat ISPO yang lebih dulu diraih anak usaha lainnya, yakni PT Citra Palma Pertiwi (CPP) dan PT Setia Agro Abadi (SAA), yang mengelola sekitar 20 ribu hektare perkebunan. Dengan demikian, hingga pertengahan 2026, enam perusahaan perkebunan dan tiga pabrik kelapa sawit dalam kelompok usaha KAS telah tersertifikat ISPO.

Bagi Adi Bijaksana, Sustainability KAS Group, keberhasilan tersebut bukanlah hasil kerja yang lahir dalam semalam. Persiapan, kata dia, telah dimulai sejak 2021 hingga 2022. Saat itu perusahaan mulai membenahi berbagai aspek yang menjadi syarat keberlanjutan, mulai dari pembangunan fasilitas, penyediaan sarana dan prasarana karyawan, pemenuhan perizinan, penerapan prinsip dan kriteria ISPO, hingga implementasi keselamatan dan kesehatan kerja (K3).

BACA JUGA: Mahasiswa UNDIP Sulap Limbah Sawit Jadi Pakan Ternak, Raih Gold Medal Nasional

“Dari awal pembukaan lahan hingga menghasilkan, kami berupaya memastikan seluruh proses berjalan dengan baik. Itu yang menjadi modal utama kami untuk percaya diri mengikuti sertifikasi ISPO,” ujar Adi, kepada InfoSAWIT, pertengahan Juni 2026.

Meski demikian, sertifikasi baru dapat diajukan pada 2025 setelah perusahaan merasa seluruh dokumen dan persyaratan telah lengkap sesuai regulasi terbaru. Audit internal dilakukan lebih dahulu untuk mengukur kesiapan perusahaan sebelum memasuki proses sertifikasi resmi.

Menariknya, Adi tidak melihat tantangan terbesar ISPO berada pada aspek administratif maupun teknis perusahaan. Baginya, tantangan justru terletak pada konsistensi menjalankan kebijakan yang telah disusun dari tingkat pusat hingga lapangan.

BACA JUGA: Harga CPO KPBN Inacom Withdraw pada Rabu (12/8), Harga CPO Malaysia di Bursa Malaysia Melemah

Kebijakan terkait K3, hubungan sosial, hingga tata kelola keberlanjutan, menurut dia, harus terus-menerus disosialisasikan kepada karyawan dan masyarakat sekitar. Tantangan itu bersifat dinamis karena menyangkut perilaku, pemahaman, dan budaya kerja sehari-hari.

“ISPO pada dasarnya adalah sistem kepatuhan. Ketika perusahaan sudah memiliki komitmen, tantangannya adalah bagaimana memastikan seluruh elemen memahami dan menjalankannya secara berkelanjutan,” katanya.

Di balik kewajiban regulasi tersebut, KAS melihat manfaat yang lebih luas. Sertifikasi menjadi instrumen untuk mengukur sejauh mana perusahaan mampu mengelola keseimbangan antara keuntungan usaha, kesejahteraan manusia, dan kelestarian lingkungan. Konsep yang lazim dikenal sebagai triple bottom lineprofit, people, dan planet—menjadi kerangka yang mereka gunakan untuk menilai arah bisnis jangka panjang.

BACA JUGA: Pabrik Sawit KUD Sejahtera Diresmikan, Koperasi Didorong Naik Kelas ke Hilirisasi Sawit

Saat ini, sekitar 80 persen unit usaha KAS Group telah bersertifikat ISPO. Perusahaan juga menargetkan dua anak usaha lainnya mengikuti proses yang sama. Audit dijadwalkan berlangsung dalam waktu dekat dengan target penyelesaian pada 2027. Jika seluruh proses berjalan sesuai rencana, seluruh unit perkebunan KAS Group akan berstatus tersertifikasi ISPO.

Namun perjalanan keberlanjutan itu belum berhenti di sana.

Adi mengungkapkan perusahaan mulai membicarakan kemungkinan penerapan sertifikasi Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO). Berbeda dengan ISPO yang bersifat wajib, RSPO merupakan sertifikasi sukarela yang dikenal memiliki standar lebih luas dan memberikan peluang memperoleh premium price di pasar global.

“Untuk saat ini fokus kami tetap pada ISPO karena sifatnya mandatori. Tetapi ke depan, RSPO menjadi salah satu opsi yang ingin kami tempuh secara bertahap,” ujarnya.


InfoSAWIT

Dapatkan update berita InfoSAWIT setiap hari dengan bergabung di Grup Telegram "InfoSAWIT - News Update", caranya klik link InfoSAWIT-News Update, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel. Bisa juga IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS.


Atau ikuti saluran Whatsapp "InfoSAWIT News", caranya klik link InfoSAWIT News

Untuk informasi langganan dan Iklan silahkan WhatsApp ke Marketing InfoSAWIT_01 dan Marketing InfoSAWIT_02 atau email ke sawit.magazine@gmail.com