Pertanyaannya, siapa yang akan menguasai data dan teknologi tersebut?
Jika teknologi hanya terkonsentrasi pada sejumlah perusahaan besar, kesenjangan antara perusahaan besar dan petani berpotensi semakin lebar. Namun, jika inovasi dapat diakses secara lebih terbuka, digitalisasi justru dapat menjadi peluang untuk meningkatkan produktivitas petani sawit dan memperkuat posisi Indonesia dalam persaingan global.
Pada akhirnya, konsentrasi kekuatan di sektor agribisnis menjadi peringatan bahwa persaingan industri masa depan tidak hanya berlangsung di lahan perkebunan. Pertarungan sesungguhnya juga terjadi di kilang, pelabuhan, pusat data, laboratorium, jaringan logistik, hingga meja perdagangan komoditas dunia.
BACA JUGA: Cegah Kekerasan Seksual, Komite Gender di Perusahaan Sawit Didorong Diperkuat
Bagi industri sawit Indonesia, tantangannya bukan sekadar mempertahankan posisi sebagai produsen terbesar dunia. Tantangan yang lebih besar adalah memastikan bahwa nilai tambah, teknologi, dan kekuatan tawar dalam rantai pasok global tidak semakin terkonsentrasi di tangan segelintir korporasi, sementara petani sawit tetap berada di posisi paling bawah dalam struktur industri. (T2)
