InfoSAWIT, PALEMBANG – Sebanyak 174 petani kelapa sawit asal Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU), Sumatera Selatan, mengikuti pelatihan budi daya kelapa sawit untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan dalam mengelola perkebunan. Kegiatan yang berlangsung selama enam hari tersebut memadukan pembelajaran teori dengan praktik lapangan.
Pelatihan digelar pada 26–31 Agustus 2026 di Beston Hotel Palembang sebagai bagian dari Program Pengembangan SDM Perkebunan Kelapa Sawit Tahun 2026. Program ini merupakan hasil kolaborasi Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP), Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian (Ditjenbun), dan serta IPB Training.
Dalam keterangan resmi diterima InfoSAWIT, Senin (31/8/2026), peserta dibagi ke dalam enam angkatan, yakni XXIV hingga XXIX. Dimana pada pembukaan kegiatan dihadiri sejumlah pemangku kepentingan dari tingkat provinsi dan kabupaten, perwakilan BPPSDMP, pihak Direktorat Jenderal Perkebunan, serta Lead Trainer, IPB Training Prof. Hariyadi, M.S.
BACA JUGA: Produksi Sawit Indonesia 2026 Diproyeksikan Tembus 50,31 Juta Ton (Bagian 1)
Dalam pelaksanaannya, materi pelatihan tidak hanya diberikan melalui pembelajaran di kelas, tetapi juga diskusi, praktikum, dan kunjungan lapangan.
Pendekatan tersebut memungkinkan petani menghubungkan materi yang diperoleh dengan persoalan yang mereka hadapi di kebun. Berbagai topik dibahas mulai dari kebijakan perkebunan hingga teknik budi daya tanaman kelapa sawit.
Fokus pada Benih dan Pembibitan Sawit
Salah satu materi penting yang diberikan berkaitan dengan bahan tanam. Petani mendapatkan penjelasan mengenai bahan tanam unggul, prosedur pengadaan, pembibitan pre-nursery (PN) dan main nursery (MN), hingga cara membedakan bibit asli dan palsu.
BACA JUGA: Pupuk Organik Jadi Strategi Efisiensi, Industri Sawit Nasional Tetap Optimistis
Materi tersebut dinilai relevan karena sebagian peserta telah memiliki pengalaman melakukan pembibitan secara mandiri serta menghadapi persoalan dalam memperoleh bahan tanam. Pembelajaran kemudian dilanjutkan dengan praktik pemindahan bibit dari PN ke MN menggunakan ponjok.
Selain pembibitan, petani juga mempelajari persiapan lahan, termasuk syarat tumbuh, kesesuaian lahan, replanting, serta pengajiran. Setelah memperoleh penjelasan mengenai pola dan jarak tanam, peserta melakukan praktik pengajiran secara langsung.
Materi kemudian berlanjut pada tahapan penanaman dan pemeliharaan tanaman. Di bagian ini, peserta mempelajari pemindahan bibit ke lapangan, pengaturan populasi dan jarak tanam, pembuatan lubang tanam, pemberian pupuk dasar, penggunaan cover crop, serta pengelolaan tanaman belum menghasilkan (TBM) dan tanaman menghasilkan (TM).
BACA JUGA: Perusahaan Sawit Perkuat Kesiapsiagaan Karhutla Sebelum Puncak Kemarau 2026
Petani Praktik Langsung Teknik Perawatan Sawit
Pembelajaran lapangan menjadi bagian penting dalam rangkaian pelatihan. Peserta memperoleh kesempatan mempraktikkan sejumlah kegiatan teknis perkebunan, antara lain penggunaan egrek, kastrasi, perawatan piringan secara manual maupun menggunakan mesin, serta pengoperasian traktor.
Dalam sesi tersebut, peserta juga berdiskusi dengan narasumber dari IPB Training dan PT Dutareka Mandiri untuk memperdalam pemahaman terhadap praktik pengelolaan tanaman di lapangan.
Pelatihan turut memberikan perhatian pada aspek pemupukan dan pengendalian gulma. Peserta mempelajari kalibrasi alat, teknik penyemprotan, kebutuhan unsur hara, serta prinsip 5T dalam pemupukan. Mereka juga melakukan pengukuran pH tanah dan pupuk sebagai bagian dari praktik pembelajaran.
BACA JUGA: Memutus Lingkaran Setan Bencana Karhutla dan Asap
Sementara itu, materi pengendalian hama dan penyakit tanaman (HPT) mencakup penerapan pengendalian hama terpadu (PHT), identifikasi hama, deteksi dini, sensus HPT, pemanfaatan agensia hayati, serta beneficial plant. Persoalan serangan tikus yang banyak dijumpai pada lahan peserta juga menjadi salah satu topik yang dibahas selama pelatihan.
Dorong Penguatan SDM Perkebunan Sawit
Rangkaian pelatihan tersebut menunjukkan pentingnya pengembangan kapasitas petani melalui pembelajaran yang menggabungkan pengetahuan teknis dan pengalaman lapangan. Materi yang diberikan tidak berhenti pada teori, tetapi disertai diskusi dan praktik sehingga petani dapat mengaitkannya dengan kondisi perkebunan masing-masing.
Bagi peserta, forum pelatihan juga menjadi ruang untuk menyampaikan persoalan nyata yang ditemui dalam pengelolaan kebun. Di sisi lain, interaksi tersebut memberikan kesempatan bagi penyelenggara dan narasumber untuk memahami beragam tantangan yang dihadapi petani sawit di lapangan.
BACA JUGA: Penelitian: Emisi CO2 Tanah Meningkat pada Tiga Tahun Awal Perkebunan Sawit di Lahan Gambut
Selama enam hari, pelatihan mempertemukan aspek kebijakan, pengetahuan teknis, pengalaman petani, dan praktik perkebunan. Sinergi antara BPDP, Ditjenbun, dan IPB Training tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat sumber daya manusia yang terlibat langsung dalam pengelolaan perkebunan kelapa sawit. (T2)
