InfoSAWIT, JAKARTA – Tekanan kenaikan harga pupuk anorganik dalam beberapa tahun terakhir tidak serta-merta mengurangi optimisme terhadap prospek industri kelapa sawit nasional. Pelaku usaha dinilai terus beradaptasi dengan mengembangkan strategi pemupukan yang lebih efisien, termasuk memanfaatkan pupuk organik dan land application (LA) untuk mendukung produktivitas tanaman.
Ketua Bidang Perkebunan Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI), R. Azis Hidayat, mengatakan persoalan harga pupuk memang menjadi salah satu tantangan yang dihadapi sektor perkebunan. Kenaikan harga pupuk kimia dapat meningkatkan biaya pemeliharaan kebun, terutama ketika perusahaan dan petani tetap dituntut mempertahankan produktivitas tanaman.
Namun, kondisi tersebut menurutnya sekaligus mendorong pelaku usaha mencari alternatif pengelolaan nutrisi tanaman yang lebih efisien.
BACA JUGA: Memutus Lingkaran Setan Bencana Karhutla dan Asap
“Pengelolaan nutrisi tanaman sawit tidak selalu bergantung sepenuhnya pada pupuk anorganik,” ujar Azis dalam sebuah acara dihadiri InfoSAWIT, akhir Mei 2026 lalu.
Menurut dia, penggunaan pupuk organik mulai semakin banyak diterapkan sebagai bagian dari strategi pemupukan di perkebunan kelapa sawit. Salah satu pendekatan yang digunakan adalah land application, yang memungkinkan pemanfaatan material organik sebagai bagian dari pengelolaan nutrisi di areal perkebunan.
Pemanfaatan pupuk organik tersebut bukan berarti sepenuhnya menggantikan pupuk kimia. Sebaliknya, pendekatan tersebut dapat menjadi pelengkap untuk memenuhi kebutuhan nutrisi tanaman sekaligus membantu perusahaan maupun petani mengelola biaya produksi secara lebih efisien.
BACA JUGA: Penelitian: Emisi CO2 Tanah Meningkat pada Tiga Tahun Awal Perkebunan Sawit di Lahan Gambut
Harga Pupuk Naik, Produksi Sawit Tetap Bertumbuh
Azis menilai perkembangan produksi kelapa sawit nasional menjadi salah satu indikator bahwa industri sawit memiliki kemampuan beradaptasi terhadap tekanan biaya produksi.
Pasalnya, ketika persoalan mahalnya pupuk menjadi perhatian pelaku industri sepanjang tahun lalu, produksi kelapa sawit Indonesia masih mampu menunjukkan pertumbuhan.
Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa pelaku usaha tidak tinggal diam menghadapi kenaikan biaya input. Berbagai inovasi dalam pengelolaan kebun, efisiensi pemupukan, dan optimalisasi produktivitas terus dilakukan agar kinerja perkebunan tetap terjaga.
BACA JUGA: GAPKI dan PWI Perkuat Sinergi Pers untuk Dorong Tata Kelola Sawit Berkelanjutan
“Fakta ini menunjukkan bahwa pelaku usaha terus berupaya beradaptasi melalui berbagai inovasi dan strategi pengelolaan kebun yang lebih efisien,” katanya.
Meski demikian, Azis mengingatkan agar perhatian terhadap keberlanjutan industri sawit tidak hanya diarahkan kepada perusahaan. Kondisi petani dan masyarakat yang menggantungkan kehidupan pada sektor perkebunan juga perlu menjadi bagian dari pertimbangan dalam merumuskan kebijakan.
Kenaikan biaya produksi yang terjadi bersamaan dengan meningkatnya kebutuhan hidup dapat memberikan tekanan tambahan kepada masyarakat, termasuk petani kelapa sawit. Karena itu, kebijakan yang berkaitan dengan industri sawit perlu memperhitungkan kemampuan masyarakat dalam menghadapi perubahan kondisi ekonomi.
BACA JUGA: Konsumsi Sawit Domestik Tembus 12,99 Juta Ton, Pasar Sawit Berkelanjutan Menjanjikan
Optimistis terhadap Prospek Sawit Indonesia
Di tengah berbagai tantangan tersebut, Azis tetap melihat prospek industri kelapa sawit Indonesia secara positif. Menurutnya, sektor sawit masih memiliki daya tahan yang kuat dan terus memberikan kontribusi terhadap perekonomian nasional.
Pertumbuhan industri yang disebut berada di kisaran 7,2 persen menjadi salah satu indikator bahwa sektor sawit masih memiliki ruang pertumbuhan sekaligus peran strategis bagi Indonesia.
“Di tengah berbagai tantangan tersebut, saya tetap optimistis terhadap prospek industri sawit Indonesia,” ungkapnya.
