Menurut Jenny, riset masih diperlukan untuk menghasilkan produk yang mampu menjawab tuntutan pasar yang terus berkembang. Pengembangan produk pangan berbasis minyak sawit antara lain perlu menghasilkan produk yang cost efficient dan memiliki functional properties yang sesuai.
“Aspek keamanan dan kesehatan produk juga menjadi perhatian. Pengembangan teknologi perlu menjawab isu kontaminan yang menjadi perhatian konsumen serta meminimalkan penggunaan trans fat dengan memanfaatkan keunggulan lemak sawit yang secara alami bebas trans fat,” tambahnya.
Di samping itu, aspek keberlanjutan atau sustainability semakin menentukan penerimaan produk di pasar global. Karena itu, inovasi produk tidak hanya dituntut menghasilkan fungsi dan efisiensi, tetapi juga harus mampu menjawab tuntutan keberlanjutan yang terus berkembang di pasar.
BACA JUGA: IHCS: Mestinya Bupati Punya Kewenangan Menangani Persoalan Kebun Masuk Kawasan Hutan
Jenny juga menekankan pentingnya pengembangan teknologi dan bahan pendukung untuk memperkuat kemandirian industri. Berbagai proses modifikasi minyak sawit masih membutuhkan penguasaan teknologi dan bahan pembantu proses (processing aid). Karena itu, riset dalam negeri pada aspek tersebut dinilai perlu terus didorong.
Kebutuhan tersebut menunjukkan bahwa diversifikasi produk hilir sawit tidak dapat berjalan hanya dengan mengandalkan ketersediaan bahan baku. Hilirisasi sawit membutuhkan penguasaan teknologi, kemampuan menghasilkan produk sesuai kebutuhan pasar, ketersediaan infrastruktur riset, hingga keterhubungan dengan industri sebagai bagian dari ekosistem yang perlu dibangun secara bersamaan.
“Melalui pengembangan Center of Excellence for Oleochemicals, BRIN diharapkan dapat memperkuat sinergi antara riset, pengembangan teknologi, dan industri. Pusat unggulan tersebut dapat menjadi platform kolaborasi untuk mengintegrasikan kompetensi, infrastruktur, dan jejaring riset dalam menjawab tantangan pengembangan produk oleokimia sekaligus memperluas pemanfaatan minyak sawit menjadi berbagai produk bernilai tambah,” ujarnya.
Kolaborasi antara BRIN, perguruan tinggi, dan dunia usaha dinilai menjadi kunci untuk mempercepat diversifikasi produk hilir sawit. Penguatan ekosistem tersebut diharapkan tidak hanya meningkatkan nilai tambah komoditas sawit nasional, tetapi juga memperkuat daya saing industri oleokimia Indonesia. (T2)
