InfoSAWIT, JAKARTA – Di tengah lanskap perkebunan yang kerap dipersepsikan semata sebagai mesin produksi, pendidikan muncul sebagai intervensi sunyi namun strategis. Wilmar memilih menanam investasi jangka panjang—bukan hanya pada lahan, tetapi pada manusia—dengan membangun ekosistem pendidikan yang menyentuh akar persoalan, akses, kualitas, dan keterhubungan dengan dunia kerja.
Di Desa Kenyala, Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah, sebuah bangunan sekolah berdiri di antara denyut aktivitas perkebunan. Namanya Sekolah Bina Bangsa 02. Ia bukan sekadar fasilitas pendidikan, melainkan simbol dari sebuah pendekatan yang mencoba menggeser paradigma lama industri sawit—dari ekstraksi sumber daya menuju pembangunan manusia.
Sekolah ini berada di bawah pengelolaan Yayasan Bina Bangsa, bagian dari Wilmar Central Kalimantan Project (CKP). Di sinilah terlihat bahwa korporasi tidak hanya beroperasi dalam logika produksi, tetapi mulai merambah wilayah yang lebih subtil, pembentukan masa depan sosial di sekitar konsesi mereka.
BACA JUGA: Pekanbaru Susun RAD-KSB, 24 Ribu Hektare Sawit Jadi Potensi Ekonomi Berkelanjutan
“Anak-anak adalah generasi penerus bangsa, sehingga harus disiapkan sebaik mungkin. Semua anak berhak mendapatkan kesempatan pendidikan yang setara,” ujar Siti Wahyuni, Koordinator Yayasan Bina Bangsa. Pernyataan ini terdengar normatif, namun dalam konteks wilayah perkebunan—yang kerap menghadapi keterbatasan akses pendidikan—ia menjadi signifikan.
Hingga kini, Yayasan Bina Bangsa mengelola 20 sekolah di Kalimantan Tengah: delapan TK, enam SD, tiga SMP, dan tiga SMA. Total 6.004 siswa ditopang oleh 289 tenaga pendidik. Angka-angka ini menunjukkan skala intervensi yang tidak kecil—terutama jika diingat bahwa sebagian besar sekolah berada di wilayah yang sebelumnya minim fasilitas pendidikan.
Yang menarik, akses pendidikan diberikan secara gratis, kecuali untuk seragam. Lebih dari itu, sekolah ini tidak eksklusif bagi anak karyawan. Sekitar 380 siswa berasal dari desa-desa sekitar. Di titik ini, pendidikan menjadi jembatan—bukan hanya antara perusahaan dan komunitas, tetapi juga antara generasi kini dan masa depan yang lebih terbuka.
BACA JUGA: UU Reforma Agraria Indonesia Picu Ketidakpastian bagi Perusahaan Sawit Malaysia
Namun, pendidikan formal hanyalah satu sisi dari persoalan. (T2)


















