Benarkah Sawit Penyumbang Emisi Tertinggi

oleh -9622 Dilihat
infosawit
Dok.Sawit Fest 2021/Miftahurrohman

InfoSAWIT, JAKARTA – Hingga saat ini masih ada pihak yang menganggap perkebunan kelapa sawit berkontribusi besar pada terlepasnya emisi karbon yang akhirnya berdampak pada  perubahan iklim. lantas benarkah tudingan tersebut?

Setelah terus tumbuh, akhirnya pada 2018 laju ekspansi sawit pada 2018 tercatat turun menjadi 2%, menyusul diterbitkannya Inpres mengenai penundaan dan evaluasi masalah perizinan pembukaan lahan sawit.

Laju pertumbuhan tersebut jauh lebih rendah jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya yang sebesar 25,4%. Pemerintah mengharapkan dengan diremnya ekspansi lahan ini, para pelaku usaha sawit dapat fokus meningkatkan produktivitas kebun sawitnya.

BACA JUGA: BRIN & Poltek Lamandau Kerjasama Riset Penginderaan Jauh Untuk Estimasi Produktivitas Sawit

Meluasnya perkebunan sawit salah satunya diakibatkan oleh adanya peningkatan permintaan terhadap minyak nabati di dunia, khususnya crude palm oil (CPO), yang menjadi salah satu sumber ekspor non migas utama Indonesia.

Jika dibandingkan luas lahan sawit pada 1980 yang sekitar 295 ribu ha, pada 2018 luasnya sudah mencapai 14,3 juta ha. Ekspansi perkebunan sawit membawa dampak positif terhadap kehidupan sosio-ekonomi masyarakat.

Namun tudingan terhadap sektor sawit masih saja terus berlangsung bahkan sudah masuk dalam ranah regulasi. Misalnya awal tahun 2019 lalu,  parlemen Uni Eropa justru mengusulkan kebijakan Arahan Energi Terbarukan (Renewable Energy Directive/ RED II), yang mewajibkan negara-negara di kawasan Uni Eropa mesti memenuhi 32% dari total kebutuhan energinya melalui sumber yang terbarukan pada 2030.

BACA JUGA: 7 Perusahaan Minyak Goreng Sawit Ditetapkan KPPU Melanggar Penjualan Barang

Dimana dalam aturan pelaksaaan teknis yang dikenal sebagai Delegated Act, berisi kriteria yang disebut dengan Indirect Land Use Change (ILUC), yakni metode yang digunakan Uni Eropa dalam RED II untuk menentukan besar-kecilnya risiko yang disebabkan tanaman minyak nabati terhadap alih fungsi lahan dan deforestasi.

Dalam hitungan ILUC, minyak sawit dianggap memiliki resiko tinggi terhadap terjadinya kerusakan lahan dan deforestasi. Demikian juga tudingan mengenai kontribusi sawit terhadap meningkatnya gas rumah kaca di dunia. Alasannya kelapa sawit berontribusi besar terhadap meningkatnya emisi karbon di atmosfir.

Padahal, industri sektor non-perkebunan kelapa sawit, seperti sektor transportasi, pertambangan yang lebih boros energi (bahan bakar minyak) dari minyak bumi serta industri manufaktur, ditengarai memiliki peran lebih besar lagi dalam mengotori udara bumi.

BACA JUGA: Berikut Tiga Fase Pelaksanaan Pembangunan Kebun Masyarakat (FPKM) di Sektor Sawit

Maka bila alasan meningkatnya karbon akibat pesatnya pertumbuhan perkebunan kelapa sawit di Indonesia, nampaknya tudingan itu kurang tepat. Lantaran bila dilihat dari perubahan kawasan hutan menjadi areal pertanian dan perkebunan nasional dibandingkan negara lain pada periode 2000 hingga 2005, Indonesia hanya menggunakan kawasan hutan seluas 35 ribu sq km. Itupun kebanyakan digunakan untuk memenuhi pengembangan wilayah akibat pemekaran kabupaten atau provinsi.

Dapatkan update berita seputar harga TBS, CPO dan industri kelapa sawit setiap hari dengan bergabung di Grup Telegram "InfoSAWIT - News Update", caranya klik link InfoSAWIT-News Update, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel. Bisa juga IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS.


Atau ikuti saluran Whatsapp "InfoSAWIT News", caranya klik link InfoSAWIT News dan Group Whatsapp di InfoSAWIT News Update

Untuk informasi langganan dan Iklan silahkan WhatsApp ke Marketing InfoSAWIT_01 dan Marketing InfoSAWIT_02 atau email ke sawit.magazine@gmail.com