InfoSAWIT, DENHAAG – Isu minyak sawit telah menjadi perbincangan yang kontroversial dalam bisnis kelapa sawit Indonesia dengan negara-negara di Uni Eropa. Gubernur Kalimantan Timur, Isran Noor membawa isu ini ke Belanda karena Indonesia kerap mendapatkan kritik terkait dampak lingkungan dan pengrusakan hutan akibat produksi kelapa sawit. Hanya saja Isran Noor berpendapat, bahwa masalah ini sebenarnya adalah tentang kompetisi dalam industri minyak.
Menurut Gubernur Isran Noor, kelapa sawit lebih ramah lingkungan daripada minyak matahari yang banyak diproduksi di Eropa. Hal ini disebabkan oleh sifat kelapa sawit yang bisa bertahan hidup selama 25 hingga 30 tahun tanpa harus ditebang setiap beberapa bulan seperti bunga matahari. “Selama masa hidupnya, kelapa sawit tetap menjadi pohon yang dapat menyerap panas matahari, membatasi penguapan, dan menyerap air hujan. Hal ini berkontribusi pada pelestarian lingkungan secara alami,” katanya dikutip InfoSAWIT dari laman resmi Pemprov Kaltim, Jumat (21/7/2023).
Isran Noor juga menekankan bahwa persaingan antara kelapa sawit dan minyak matahari adalah tentang produktivitas dan produksi. Satu hektare lahan kelapa sawit dapat menghasilkan setara dengan 10 hektare lahan minyak matahari. Oleh karena itu, kelapa sawit memiliki keunggulan dalam hal produktivitas yang membuatnya sulit untuk bersaing dengan minyak matahari.
BACA JUGA: ISPO Bakal Segara Diterapkan Hingga Sektor Hilir Sawit
Lebih lanjut, Gubernur mengklaim bahwa penanaman kelapa sawit selalu mengacu pada kaidah-kaidah lingkungan. Penanaman sawit dilakukan di kawasan nonkehutanan, seperti areal penggunaan lainnya (APL), dan tidak dilakukan di kawasan hutan. Sayangnya, banyak informasi yang salah mengenai hal ini yang disebarkan oleh kelompok-kelompok di dalam negeri ke negara-negara Eropa.
Penting untuk mencatat bahwa Indonesia merupakan salah satu produsen utama crude palm oil (CPO) dengan produksi mencapai 55 juta ton per tahun. Dari jumlah tersebut, sekitar 20 juta ton digunakan untuk keperluan dalam negeri sebagai bahan baku minyak goreng dan biodiesel, sementara sisanya diekspor.
Sementara diungkapkan Duta Besar (Dubes) Republik Indonesia Denhaag, Mayerfas ekspor CPO ke Belanda dan Uni Eropa tetap dilanjutkan. “Tanpa sawit, mereka pasti sulit. Beberapa waktu lalu, ketika kita stop dua bulan, mereka (Eropa) teriak,” kata Dubes Mayerfas.
BACA JUGA: Berikut Perkembangan Industri Minyak Sawit di Thailand, Colombia, dan Nigeria
Belanda sendiri kata Mayerfas, menjadi mitra utama perdagangan Indonesia di Eropa. Tahun lalu ekspor Indonesia mencapai US$ 65 miliar dan surplus sebesar US$ 5 miliar. Belanda juga merupakan investor terbesar Uni Eropa ke Indonesia, termasuk besarnya kunjungan wisatawan ke Tanah Air. Jumlahnya berkisar 250 ribu per tahun. Wisatawan dari Belanda berkunjung ke berbagai daerah di Indonesia, bukan hanya Bali.
“Jadi lanjutkan saja sawitnya Pak Gubernur. Yang pasti, Belanda akan terus memberi banyak nilai tambah secara ekonomi untuk Kaltim dan Indonesia,” tandas Mayerfas. (T2)
