InfoSAWIT, YOGYAKARTA – Yayasan Pendidikan Kader Perkebunan Yogyakarta (YPKPY) resmi menggandeng PT Nusantara Green Energy dalam pengembangan teknologi pengolahan kelapa sawit berbasis Teaching Plant Steamless Palm Oil Technology (SPOT). Kolaborasi ini ditandai dengan penandatanganan nota kesepahaman (MoU) sekaligus peletakan batu pertama pembangunan pabrik sawit berteknologi SPOT di kampus Institut Pertanian Stiper (INSTIPER), Selasa (10/2).
Dilansir InfoSAWIT dari keterangan resmi, pada Selasa dan 10 Februari, penandatanganan dilakukan oleh Ketua Pengurus YPKPY, Dr. Ir. Purwadi, M.S., bersama Direktur Utama PT Nusantara Green Energy, Iman Dermawan. Kerja sama ini menjadi bagian dari upaya memperkuat sinergi antara dunia pendidikan dan industri, khususnya dalam mendorong inovasi di sektor perkebunan kelapa sawit.
Melalui kerja sama tersebut, kedua pihak menargetkan peningkatan kompetensi sumber daya manusia di bidang teknologi pengolahan sawit, sekaligus menghadirkan fasilitas pembelajaran berbasis praktik. Teaching plant SPOT yang dibangun di kawasan Technology and Innovation Center INSTIPER ini akan difungsikan sebagai learning factory bagi mahasiswa, sekaligus pusat riset hilirisasi teknologi sawit yang efisien dan berkelanjutan.
BACA JUGA: Harga TBS Sawit Plasma Riau 15-21 April 2026 Naik Rp 41,42 per Kg
Direktur PT Nusantara Green Energy, Petrus Tjandra, menjelaskan bahwa teknologi SPOT menawarkan pendekatan berbeda dibandingkan pabrik kelapa sawit konvensional. “Pabrik kelapa sawit dengan teknologi SPOT atau Steamless Palm Oil Technology merupakan pabrik kelapa sawit sistem kering yang merupakan solusi dari permasalahan pabrik kelapa sawit konvensional saat ini,” katanya.
Lebih lanjut tutur Iman Dermawan, menjelaskan bahwa perbedaan pengolahan kelapa sawit teknologi SPOT dengan sistem basah konvensional adalah tidak menggunakan uap panas namun menggunakan udara panas sehingga tidak memelukan sterilizer dan boiler sehingga tidak menghasilkan limbah cair.
“Dengan tidak adanya limbah cair maka sistem ini menjadi lebih ramah lingkungan karena mengurangi emisi gas rumah kaca. Selain itu pabrik ini juga memiliki kapasitas produksi yang lebih kecil daripada pabrik konvensional sehingga cocok untuk petani rakyat di Indonesia dan dapat ditempatkan dekat dengan kebun,” jelasnya.
BACA JUGA: Impor Minyak Sawit India Turun 19% pada Maret di Tengah Kenaikan Harga
Sementara itu, Ketua Pengurus YPKPY, Dr. Purwadi, menegaskan bahwa kerja sama ini juga mencakup pembagian peran yang jelas antara kedua pihak. “Pada kerja sama ini, YPKPY akan menyediakan lahan dan infrastruktur pendukung, sementara PT Nusantara Green Energy bertanggung jawab dalam penyediaan teknologi serta peralatan pengolahan sawit berbasis sistem SPOT,” kata Dr. Purwadi.
Tercatat kedua pihak juga sepakat untuk berkolaborasi dalam penyediaan sumber daya manusia atau ahli dibidang masing-masing dalam operasional Pengembangan Teaching Plant SPOT. “Pabrik ini juga dapat menjadi tempat riset dosen dan mahasiswa INSTIPER dan AKPY,” ungkap Dr. Purwadi.
Dengan hadirnya teaching plant berbasis teknologi SPOT ini, diharapkan mampu memperkuat posisi INSTIPER sebagai institusi pendidikan yang adaptif terhadap perkembangan teknologi industri perkebunan, sekaligus mendorong lahirnya inovasi pengolahan kelapa sawit yang lebih efisien, inklusif, dan ramah lingkungan. (T2)
