Pengamatan ini terkonfirmasi juga dengan fakta bahwa beberapa pokok generasi pertama di Bangka/Belitung dan Kalimantan dilaporkan sudah ada yang terserang ganoderma.
Dengan penjelasan di atas maka tindakan antisipasi yang harus dilakukan adalah:
- Pada saat melakukan sensus ganoderma sekaligus juga dilakukan pengamatan tunggul kayu. Jika ditemukan tunggul yang terdapat ganoderma maka kumpulkan semua badan buah dan bongkar tunggul kayunya kemudian cacah/potong dan bawa ke Pabrik Kelapa Sawit (PKS) untuk dibakar.
- Pada saat persiapan lahan (LC) jika ditemukan jenis kayu meranti maka tunggulnya harus dibongkar dan dicacah.
Kedua cara di atas tentu saja butuh investasi yang tidak sedikit, namun demikian kegiatan pencegahan lebih baik dilakukan, ketimbang pada saat usia tanaman mencapai 11 tahun jumlah pokok per hektar (SPH) tinggal tersisa 70 sampai 80 pokok saja.
Sementara untuk pengobatan tanaman yang terkena serangan ganoderma sampai saat ini belum cara untuk untuk mengobati tanaman yang sudah terinfeksi jamur ganoderma tersebut. Biasanya yang bisa dilakukan adalah tindakan pencegahan dan mengurangi penyebaran.
BACA JUGA: Derom Bangun, Sang Duta Besar Sawit yang Saya Kenal
Oleh karena itu kesehatan tanaman sangat penting karena ganoderma akan menyerang pada saat tanaman dalam kondisi lemah. Antisipasilah sejak dini serangan ganoderma di tanaman kelapa sawit anda. Ubah paradigma bahwa generasi pertama dan kedua, ganoderma tidak menjadi masalah padahal dari masa itulah ganoderma mulai berkembang.
Hal lain yang kami temukan selama obeservasi di lapangan adalah bahwa pengurangan jumlah pokok atau sering dikenal dengan istilah thinning out (TO) dengan cara meracun (poisoning) menyebabkan tanaman lebih rentan terserang ganoderma, dimana pada saat tanaman sedang lemah akibat peracunan maka akan mudah terinfeksi. Untuk itu sangat dianjurkan untuk tidak melakukan peracunan baik untuk TO maupun replanting.
