Pada tahun 1957, Orang tua Derom pindah domisili ke Medan, dan mendaftarkam Derom masuk di SMA Negeri 1 Medan. Pada waktu itu, SMA Negeri 1 Medan, merupakan sekolah unggulan di Sumatra Utara. Ayahnya ingin Derom mendapatkan pendidikan terbaik untuk masa depannya.
Di SMA ini Derom menperdalam bahasa Inggrisnya dari guru-guru yang memang fasih berbahasa Inggris. Derom juga belajar bahasa asing lainnya, bahasa Jerman. Penguasaan bahasa asing ini, terutama bahasa Inggris kelak sangat membantu Derom pada saat studi di ITB (Institut Teknologi Bandung). Pada masa itu, dosen-dosennya kebanyakan dari luar negeri dan memberikan kuliah dalam bahasa Inggris. Kemampuan berbahasa Inggris juga merupakan salah satu modal Derom dalam meniti karier di Socfindo, yang sebagian besar sahamnya milik perusahaan asing dari Belgia. Selain itu, membantu Derom dalam pergaulan internasional.
Pada masa SMA ini, kalau Derom pergi naik sepeda dari Padang Bulan ke Jalan Seram, akan melintas rel kereta api di jalan (sekarang jalan Nusantara). Derom sering distop palang kereta api, berhenti di situ menunggu kereta api melintas. Saat itulah Derom melihat gerbong-gerbong tangki minyak sawit bercat hitam dengan tulisan Socfin berwarna putih diangkut ke pelabuhan Belawan. Waktu itu Derom sudah terkesan dengan tulisan itu dan menduga bahwa Socfin adalah perusahaan perkebunan yang bonafide.
BACA JUGA: Kementan Perkokoh Tata Kelola Memajukan Kelapa Sawit di Kalimantan Selatan
Pada masa itu, Socfin merupakan perusahaan Penanaman Modal Asing (PMA) asal Belgia dengan bisnis agribisnis yaitu perkebunan kelapa sawit, karet dan pengolahannya yang memiliki lahan di Provinsi Sumatra Utara dan Aceh (sekarang Nanggroe Aceh Darussalam).
Di masa nasionalisasi perusahaan asing, Socfin sempat di bawah pengawasan pemerintah Indonesia. Selanjutnya dibentuk organiasi baru. Hal ini berjalan sejak tahun 1963 sampai 1968. Pada saat itu Socfin bernama PPN (Perusahaan Perkebunan Negara) ex Socfin.
Pada 1968, perusahaan-perusahan asing yang dinasionalisasi dikembalikan ke pemiliknya termasuk Socfin. Socfin kemudian berubah menjadi Socfindo. Socfindo atau Socfin Indonesia adalah bagian dari Socfin Group (Belgia) dan merupakan perusahaan patungan (joint venture) antara Socfin Group dan Pemerintah Indonesia sebagai pemegang saham minoritas.
BACA JUGA: Mengenal Lebih Dekat Sang Duta Besar Sawit (Bagian 1): Makna Terpendam Dari Nama Derom
Derom tidak pernah melupakan cita-citanya untuk menjadi seorang insinyur, ia tekun belajar. Derom tamat dari SMA Negeri 1 Medan pada tahun 1960.
Pada tahun 1960, ia mengikuti ujian masuk ITB (Institut Teknologi Bandung) di Medan. Ia gagal masuk pada jurusan yang menjadi pilihannya yaitu teknik mesin dan elektro. Hasratnya yang menggebu-gebu, membuat Derom diterima di jurusan teknik kimia. Derom berhasil menyelesaikan studinya dengan menyandang gelar insinyur teknik kimia pada tahun 1966. Derom kembali ke Medan untuk mencari kerja. (Bersambung)
Penulis: Maruli Pardamean/Penulis Buku Agribisnis dan Praktisi Kelapa Sawit
