InfoSAWIT, JAKARTA – Setelah munculnya kasus covid-19 telah mendorong pemerintah China melakukan berbagai pengetatan hingga dilakukannya penutupan akses pasar. Wajar bilamana selama tahun 2019 hingga 2022, pasar minyak nabati di China mengalami penurunan.
Merujuk Oil World, diperkirakan permintaan minyak & lemak menyusut sebesar 5,5% menjadi 39,49 juta ton. Selain karena terganggunya kegiatan ekonomi akibat pandemi, penurunan permintaan juga disebabkan oleh naiknya harga minyak nabati akibat isu geopolitik yang dihadapi produsen dan eksportir minyak & lemak utama, antara lain Ukraina, Rusia, dan Indonesia.
Tercatat impor minyak sawit ke China mengalami penurunan signifikan pada tahun 2022, yang juga merupakan penurunan paling tajam sejak China mencabut pembatasan kuantitatif (sistem Kuota Tingkat Tarif) pada tahun 2006 silam. Penurunan tajam impor minyak sawit sebelumnya terlihat pada tahun 2016 ketika total impor menurun sebesar 24,2% atau 1,43 juta ton (lihat Grafik 1).
BACA JUGA: Ketua POPSI: Pembiayaan ISPO Bisa dari BPDPKS atau DBH, Tinggal Dibuat Aturan Turunannya
Merujuk catatan Desmond Ng dari Malaysian Palm Oil Council (MPOC), penurunan tersebut terutama disebabkan oleh peningkatan tajam produksi minyak kedelai yang mencapai 14,5% atau naik 1,83 juta ton, penurunan produksi minyak sawit global sebesar 3,34 juta ton atau turun sekitar 5,3%, serta tingginya stok awal minyak sawit.
Desmond Ng memperkirakan impor minyak sawit China tahun ini akan menyusut 1,43 juta ton dari volume impor periode yang sama tahun sebelumnya. Penurunan impor minyak sawit yang signifikan disebabkan oleh terganggunya pasokan minyak biji bunga matahari dan minyak rapeseed dari Ukraina dan Rusia, setelah kedua negara terlibat konflik militer. (T2)
