InfoSAWIT, KUALA LUMPUR – Negara-negara penghasil minyak sawit, Malaysia dan Indonesia, didesak untuk bersatu demi mengatasi potensi krisis yang melanda industri tersebut. Menurut pakar industri, minyak sawit bisa menjadi barang langka di masa depan karena berbagai faktor seperti penurunan produksi, hasil panen yang menurun, dan penurunan pembelian dari India, salah satu importir terbesar minyak nabati di dunia.
Proyeksi produksi minyak sawit Indonesia pada tahun 2024 menunjukkan penurunan setidaknya satu juta ton dibandingkan tahun sebelumnya, sementara produksi Malaysia diperkirakan stagnan. Analis seperti Dorab Mistry dari Godrej International menyoroti sejumlah masalah yang mengkhawatirkan, termasuk ketidaklayakan perluasan lahan, profil umur pohon yang buruk, penurunan hasil panen, dan kemunduran teknologi dalam industri kelapa sawit jika dibandingkan dengan perkembangan global.
Wakil Sekretaris Jenderal Dewan Negara Penghasil Minyak Sawit (CPOPC), Datuk Nageeb Wahab mengakui, bahwa pertumbuhan produksi di Indonesia tidak memadai, sementara di Malaysia tidak ada pergerakan yang signifikan. “Meskipun demikian, permintaan global terhadap minyak sawit terus meningkat sebesar 3,5 persen per tahun, yang berpotensi mendorong harga lebih tinggi di masa depan,” katanya seperti dilansir New Straits Times, ditulis Selasa (23/4/2024).
BACA JUGA: Harga CPO KPBN Inacom Withdraw Pada Senin (22/4), Tertinggi Rp 12.182/kg
Ketidaktersediaan lahan baru untuk perluasan kebun kelapa sawit menimbulkan kebutuhan untuk mengeksplorasi metode ekstraksi minyak yang lebih efisien dari lahan yang ada, dengan meningkatkan frekuensi penanaman kembali pohon. Namun, kurangnya investasi dalam penanaman kembali pohon telah mengakibatkan produksi minyak tidak mencapai potensi penuhnya.
Sementara, CEO Westbury Group, Abdul Rasheed JanMohammad mencatat, bahwa Malaysia kehilangan pangsa pasarnya ke Indonesia karena harga yang lebih murah, terutama dengan Pakistan beralih ke Indonesia untuk memenuhi kebutuhan minyak sawitnya. Sementara itu, India diperkirakan akan meningkatkan pembelian minyak kedelai, yang dapat mempengaruhi harga minyak mentah di masa depan.
Dalam menghadapi tantangan ini, Nageeb mendorong negara-negara penghasil kelapa sawit untuk berkolaborasi daripada bersaing. “Ketika persediaan minyak sawit tidak mencukupi, kita bisa saling membantu,” katanya.
BACA JUGA: PalmCo Resmi Jadi Pengelola Kebun Sawit Terluas di Dunia melalui Kerja Sama Operasi (KSO)
Thomas Mielke dari ISTA Mielke GmbH (Oil World) menekankan pentingnya percepatan upaya penanaman kembali di Malaysia untuk mengatasi penuaan struktur kebun kelapa sawit. Dia memperingatkan bahwa pasar akan beralih ke alternatif jika situasi ini tidak segera diatasi, yang berpotensi mendorong harga minyak sawit lebih tinggi karena permintaan global yang terus meningkat. (T2)
