Ignatius berharap melalui IPOSC 2024, para pemangku kepentingan dapat memperkuat kerja sama dalam mendorong pengembangan kelapa sawit yang berkelanjutan di Kalimantan Barat dan nasional. “Kami optimistis dengan dukungan seluruh pihak, tugas berat ini akan dapat kita jalani dengan baik,” pungkasnya.
Sementara Ketua Umum Persatuan Forum Petani Kelapa Sawit Jaya Indonesia (POPSI), Pahala Sibuea, menekankan pentingnya inovasi dalam meningkatkan produksi sawit rakyat. Terlebih saat ini tantangan yang dihadapi petani sawit semakin kompleks. “Kita harus berinovasi dan memanfaatkan fasilitas yang tersedia. Kemitraan antara petani, pemerintah, dan pihak swasta harus diperkuat untuk mendorong keberlanjutan sektor ini,” ujar Pahala.
Ia juga menyatakan bahwa masih banyak peluang yang belum sepenuhnya dimanfaatkan oleh petani sawit, terutama dalam hal akses terhadap teknologi dan pembiayaan.
BACA JUGA: Harga TBS Sawit Sumut Periode 18-24 September 2024 Turun Tipis, Cek Harganya..
Lebih lanjut kata Pahala, acara yang berlangsung selama dua hari ini juga membahas berbagai isu terkini, termasuk upaya memperjelas pola kemitraan antara petani dan industri. Pahala mengakui bahwa pola kemitraan yang ada saat ini masih belum jelas dan perlu disempurnakan agar lebih memberikan manfaat bagi petani sawit.
Salah satu program yang dibahas dalam acara tersebut adalah pembiayaan PSR melalui Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS). Apalagi saat ini pendaanan untuk Program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR) telah resmi ditingkatkan menjadi Rp 60 juta/ha, dar sebelumnya RP 30 juta/ha.
Pahala juga mengajak para petani untuk terus berpikir positif dan memanfaatkan setiap peluang yang ada. “Kita harus berinovasi dan berkreasi untuk memajukan sektor sawit di Indonesia,” tutupnya.
BACA JUGA: Impor Biodiesel Tiongkok ke UE Anjlok 91% pada Juli Akibat Penerapan Bea Antidumping
Tercatat acara Indonesian Palm Oil Smallholder Conference & Expo 2024 (IPOSC) ke 4, dihadiri sekitar 600 petani sawit dari berbagai daerah, termasuk Jambi dan Aceh. Acara tersebut digelar untuk mempertemukan petani, akademisi, dan profesional guna membahas isu-isu terkait tata kelola perkebunan sawit di Indonesia. (T2)
