InfoSAWIT, JAKARTA – Dorab Mistry, Direktur Godrej International, memaparkan pandangan mengenai produksi dan tren harga minyak sawit untuk 2024-25, memperkirakan pertumbuhan yang terbatas dan kenaikan harga akibat faktor usia tanaman, stagnasi perluasan lahan, serta lambatnya adopsi teknologi dalam industri.
Seperti dikutip InfoSAWIT dalam presentasinya pada Globoil India, September 2024 lalu, Mistry menyoroti faktor utama yang memengaruhi produksi minyak sawit di Malaysia dan Indonesia. Sementara produksi di Malaysia lebih baik dari perkiraan, dengan estimasi mencapai 19,7 juta metrik ton, produksi di Indonesia—yang awalnya diperkirakan menurun—berpotensi tetap stabil berkat kondisi pertumbuhan yang membaik di 2024. “Profil usia tanaman semakin memburuk,” kata Mistry, menekankan kebutuhan akan inovasi dalam budidaya minyak sawit dibandingkan dengan kemajuan yang lebih pesat pada tanaman biji minyak lainnya.
Produksi 2024-25 dan Pergeseran Sentimen
Sentimen industri beralih menjadi lebih optimis setelah pengumuman kebijakan biodiesel B40 di Indonesia, meskipun Mistry mengingatkan bahwa hal ini bisa membuat minyak sawit menjadi kurang kompetitif. Dia mencatat bahwa peralihan Indonesia dari B30 ke B35 sebelumnya membutuhkan waktu sekitar tujuh bulan untuk sepenuhnya diimplementasikan, mengindikasikan waktu yang sama untuk B40. Ia juga menambahkan bahwa produksi tinggi hingga November kemungkinan akan menyebabkan peningkatan stok.
BACA JUGA: Harga CPO KPBN Inacom Naik 0,65 Persen Pada Kamis (7/11), Harga CPO di Bursa Malaysia Turun Tipis
Proyeksi harga Mistry mempertimbangkan berbagai faktor global dan regional. Ia memprediksi harga minyak sawit berjangka di Bursa Malaysia Derivatives (BMD) akan berfluktuasi antara MYR 3.700 hingga MYR 4.500 per metrik ton hingga Juni 2025. Pasar bullish baru diperkirakan muncul antara Januari dan Maret 2025, didorong oleh lonjakan permintaan saat Tahun Baru Imlek dan Ramadan pada kuartal pertama.
Beberapa faktor kunci yang diperkirakan akan memengaruhi harga minyak sawit di 2024-25 meliputi dinamika penawaran dan permintaan, kebijakan dan insentif biofuel baru, dampak cuaca di Amerika Selatan, fluktuasi nilai tukar dolar AS, harga minyak mentah global, ketidakpastian iklim serta potensi penurunan bea impor India.
BACA JUGA: Moratorium Sawit Diperlukan untuk Tata Kelola Berkelanjutan di Era Biodiesel
Mistry menyimpulkan bahwa stabilitas industri sangat bergantung pada kondisi eksternal. “Dengan kombinasi siklus permintaan yang kuat awal tahun depan, pasar kemungkinan akan melihat tren bullish,” katanya, meskipun ia memperingatkan bahwa volatilitas tetap tinggi akibat ketidakpastian geopolitik dan lingkungan. (T2)
