Ringgit, mata uang perdagangan minyak sawit, menguat 0,04% terhadap dolar AS, membuat minyak nabati lebih mahal bagi pembeli yang memegang mata uang asing.
Harga minyak jatuh pada hari Jumat setelah terlihat adanya tanda-tanda bahwa permintaan di China, sebagai importir minyak mentah terbesar di dunia, terus lesu di tengah pemulihan ekonomi yang tidak merata.
Penurunan harga minyak mentah membuat minyak sawit menjadi pilihan yang kurang menarik untuk bahan baku biodiesel.
Analis teknikal Reuters, Wang Tao, memperkirakan minyak sawit dapat kembali menguji level terendah 14 November lalu di 4.826 ringgit per ton, karena koreksi dari harga 5.205 ringgit belum sepenuhnya selesai. (T2)
