Selorm Quame dari Ghana mengaku terinspirasi. “Kami belajar banyak. Kami melihat bagaimana Indonesia dan Malaysia mengatasi berbagai tantangan. Kami ingin mencoba metode serupa,” ujarnya. Sementara Gundemaro Castillo dari Honduras mengagumi tata kebun yang bersih, pekerja yang terlatih, dan pemupukan yang presisi. “Presentasinya juga jelas dan mudah dipahami,” tambahnya.
Tak kalah antusias, Kuakun Seangtan Plaipraya dari Thailand menyampaikan bahwa pertemuan ini membuka mata mereka. “Ini pertama kalinya kami hadir di forum internasional. Kami jadi sadar bahwa perjuangan kami tidak sendiri. Ada banyak hal baik dan juga rintangan yang bisa kami pelajari bersama,” ucapnya dengan mata berbinar.
ISW pertama kali diluncurkan pada 2022 sebagai bagian dari Smallholders Outreach Program (SOP) CPOPC yang telah berjalan sejak 2019. Tahun ini, ISW 2025 bukan hanya menyajikan dialog antarnegara, tetapi juga menyatukan semangat global untuk mendorong adopsi GAP, mempercepat replanting, dan memperkuat daya tahan petani kecil dalam menghadapi masa depan yang penuh tantangan. (T2)
