InfoSAWIT, SIAK – Sabtu pagi itu, langkah Menteri Lingkungan Hidup Hanif Faisol Nurofiq menyusuri barisan pohon kelapa sawit terasa lebih dari sekadar kunjungan kerja. Di balik rimbun tanaman dan suara serangga, ada kecemasan yang terus membayang: ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang belum benar-benar padam.
Di Kabupaten Siak, Riau—salah satu lumbung sawit terbesar Indonesia—Hanif mendapati pemandangan yang ia harapkan jadi contoh. PT Kimia Tirta Utama, perusahaan perkebunan yang ia kunjungi, telah memenuhi standar kesiapsiagaan karhutla. Lengkap dengan sistem deteksi dini, pelatihan petugas, dan sarana pemadaman. Tapi apresiasi itu tak lantas membuatnya lunak.
“Kalau tidak lengkap, akan kami terbitkan sanksi paksaan pemerintah,” tegasnya dikutip InfoSAWIT dari Antara, Kamis (15/5/2025). Ia merujuk pada Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup. “Ini bukan lagi imbauan, ini sudah kewajiban.”
BACA JUGA: Harga CPO KPBN Inacom Melonjak Pada Rabu (14/5), Harga Minyak Sawit di Bursa Malaysia Menguat
Riau, kata Hanif, kini memegang predikat yang mengkhawatirkan: wilayah dengan indikasi karhutla terluas di Indonesia sepanjang Januari hingga April 2025, mencapai 600 hektare. Luas itu memang belum menciptakan kepanikan, tapi menjadi tanda serius: Riau tetap rawan terbakar.
“Kecil, tapi nomor satu,” ujar Hanif, menggambarkan ironi itu. Ia menggarisbawahi bahwa dari sekitar 4 juta hektare kebun sawit di Riau—hampir setengah dari wilayah provinsi—hanya sebagian yang tertata dengan baik.
Ia pun menegaskan pentingnya pelatihan komunitas sekitar. “Panggil masyarakat, latih mereka. Ini murah, tapi efeknya besar. Jangan tunggu api datang baru bergerak,” katanya. Menurutnya, masyarakat adalah garda terdepan yang selama ini belum cukup diberdayakan.
Kunjungan Hanif ke Siak bukan sekadar meninjau kesiapan sebuah perusahaan, tetapi pesan simbolik kepada seluruh pelaku industri sawit: keberhasilan menanggulangi karhutla tidak bisa digantungkan pada segelintir perusahaan saja. Harus ada sinergi luas—pemerintah, swasta, dan masyarakat.
Dengan nada serius, Hanif menutup pesannya: “Kalau empat juta hektare ini tertata rapi, Insya Allah akan menekan kejadian karhutla. Tapi kalau lalai, satu percikan saja bisa jadi bencana.”
Kebun sawit boleh hijau, tapi di bawah tanah kering, bara masih bisa mengintai. Dan bagi Riau, setiap musim kemarau adalah ujian kesiapsiagaan yang tak bisa dianggap remeh. (T2)
