InfoSAWIT, SUBULUSSALAM – Setelah dua tahun berjalan, Proyek Landscape Approach for Sustainable and Resilient (LASR) menunjukkan capaian nyata dalam mendorong pembangunan lanskap berkelanjutan di Kota Subulussalam dan Kabupaten Aceh Singkil. Proyek ini merupakan bagian dari Sustainable Landscape Program Indonesia (SLPI), hasil kolaborasi antara Pemerintah Swiss melalui SECO bersama Swisscontact, Koltiva, dan Earthworm Foundation.
Capaian dan tantangan proyek ini menjadi pokok bahasan dalam Forum Multipihak (Multi-Stakeholder Forum/MSF) yang digelar di Aula Pendopo Subulussalam, Rabu (14/5). Forum ini mempertemukan para pemangku kepentingan dari unsur pemerintah, masyarakat, hingga organisasi pembangunan.
Kepala Sekretariat Pengelolaan Sumber Daya Alam (PSDA) Kota Subulussalam, Ridlo Sahri Walhuda, menilai LASR berhasil membuka ruang kolaborasi strategis. “Kolaborasi ini menjadi fondasi penting untuk mendorong transformasi sosial-ekologis di wilayah kita,” ungkap Ridlo.
Sejumlah capaian proyek LASR meliputi penguatan forum multipihak dengan sistem pemantauan digital melalui Dasbor MSF, penyusunan dokumen strategis seperti Rencana Aksi Daerah Kelapa Sawit Berkelanjutan (RAD-KSB) dan Kajian Lingkungan Hidup Strategis (KLHS), serta pemetaan tata guna lahan secara partisipatif bersama masyarakat desa. Tak hanya itu, proyek ini juga mendorong pengembangan mata pencaharian alternatif, pendampingan sertifikasi RSPO bagi pekebun, serta fasilitasi perusahaan memperoleh sertifikasi ISPO.
Meski begitu, Ridlo mengakui masih ada tantangan baik di tingkat lokal Subulussalam maupun Aceh Singkil, namun ia optimistis sinergi lintas sektor akan menjadi kunci keberhasilan.
Apresiasi juga disampaikan oleh Asisten I Sekretariat Daerah Kota Subulussalam, Asrul Assani, yang mewakili Pemerintah Kota. Ia menyebut proyek LASR tidak hanya menyentuh sektor pertanian, tapi juga mendukung penyusunan dokumen perencanaan seperti KLHS RPJM dan RPJP, serta penataan ruang desa.
BACA JUGA: Kementerian ESDM Tetapkan HIP Biodiesel Mei 2025 Sebesar Rp 13.742 per liter, Turun Rp 548 per Liter
“Asistensi dari Swisscontact dan mitra NGO sangat strategis dalam menjangkau program yang belum sepenuhnya terakomodasi pemerintah,” ujar Asrul.
Dukungan penuh juga disampaikan oleh Wali Kota Subulussalam, H. Rasyid Bancin, dan Wakil Wali Kota, Nasir. Mereka menilai program kelapa sawit berkelanjutan menjadi bukti keberhasilan sinergi antara pemerintah dan lembaga non-pemerintah. Ke depan, kolaborasi diharapkan bisa diperluas ke sektor pemberdayaan ekonomi dan pelestarian lingkungan.
Pemerintah Kota Subulussalam juga berharap Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian RI mendukung usulan strategis daerah, terutama dalam pengalokasian anggaran, pendampingan, dan pengawasan berkelanjutan.
BACA JUGA: Harga CPO KPBN Inacom Melonjak Pada Rabu (14/5), Harga Minyak Sawit di Bursa Malaysia Menguat
“Kami berkomitmen menciptakan ruang kolaborasi yang inklusif dan produktif demi pembangunan yang berkeadilan dan berkelanjutan,” tutup Asrul. (*)
Laporan: Nukman Suryadi Angkat
